Scroll untuk baca artikel
DaerahEkonomiFavoriteLifestyle

Warga Beteng Kelola Sampah Mandiri Lewat Sumur Kompos

×

Warga Beteng Kelola Sampah Mandiri Lewat Sumur Kompos

Sebarkan artikel ini

Inisiatif swadaya di Sleman ini tangani 80 persen sampah rumah tangga.

Warga Beteng Sleman kelola sampah mandiri lewat 40 sumur kompos dan tungku pembakaran, tangani 80 persen sampah rumah tangga. foto: Istimewa

Sleman, VoiceJogja.com – Di sudut Padukuhan Beteng, Tridadi, aroma sisa dapur tak lagi menumpuk di tepi jalan. Warga memilih mengelola sampah mandiri melalui sumur kompos dan tungku pembakaran, langkah yang kini mampu menangani sekitar 80 persen sampah rumah tangga.

Bagi keluarga di Beteng, urusan sampah bukan sekadar kebersihan lingkungan, tetapi juga soal keberlanjutan. Dari pengalaman melihat program bank sampah yang tak selalu bertahan lama, mereka memutuskan membangun sistem yang lebih sederhana dan konsisten.

Belajar dari Pengalaman, Memilih dan Realistis

Keputusan itu dijalankan melalui Kelompok Swadaya Masyarakat Beteng Asri. Ketua LPMKal Tridadi sekaligus penasihat KSM Beteng Asri, Tumiyarso, menyebut pilihan ini lahir dari pembelajaran di berbagai tempat.

“Kami belajar dari beberapa tempat. Di awal semangat membentuk bank sampah, tapi lama-lama pengurusnya lelah dan programnya tidak jalan. Kami ingin yang lebih sederhana dan bisa konsisten,” ujarnya di lokasi tungku pembakaran Durenan Beteng.

Sistem yang dibangun bertumpu pada 40 unit sumur kompos di dua RW dan enam RT. Setiap sumur, berbahan buis beton berdiameter 80 sentimeter dengan kedalaman 1,5 meter, digunakan bersama oleh empat kepala keluarga.

“Satu sumur bisa dipakai empat KK. Sampah organik langsung dimasukkan ke situ. Jadi tidak semua harus dibakar atau diangkut,” kata Tumiyarso.

Mekanisme Terjadwal dan Dikelola Swadaya

Sampah organik diolah melalui sumur kompos, sementara sampah nonorganik dan residu diangkut menggunakan dua kendaraan roda tiga menuju tungku pembakaran. Operasional ini dikelola KSM Jogo Resik dan KSM Ngudi Asri di bawah naungan KSM Beteng Asri.

Agar tertib dan terkendali, jadwal pembakaran diatur bergantian. RT 1 dan RT 3 melaksanakan pembakaran setiap Kamis dan Minggu, sedangkan RT 2 dan RT 4 pada Rabu dan Sabtu. Setiap proses berlangsung tiga hingga empat jam.

Seluruh kegiatan didanai dari iuran warga sebesar Rp20.000 per kepala keluarga setiap bulan. Dana digunakan untuk BBM, perawatan kendaraan, pajak, serta jasa angkut.

“Kami hitung betul biayanya. Iuran itu murni untuk operasional, supaya armada tetap jalan,” tegasnya.

Menjaga Lingkungan, Menunggu Pendampingan

Meski sistem pengelolaan sampah mandiri ini dinilai efektif, masih ada sampah tercampur saat pengangkutan. Untuk mengantisipasi, disediakan sumur kompos tambahan di sekitar area tungku pembakaran.

Sampah bernilai jual di RT 01 dan RT 02 tetap dikelola, dengan hasil masuk ke kas RT dan kas PKK. Skema ini memperkuat rasa kepemilikan warga terhadap sistem yang mereka bangun sendiri.

Kini, warga Beteng berharap ada pendampingan dari Dinas Lingkungan Hidup, terutama untuk uji emisi dan standarisasi polusi tungku pembakaran agar tetap ramah lingkungan dan sesuai regulasi.

“Kami berharap ada uji emisi atau standarisasi, supaya pembakaran ini benar-benar aman dan sesuai aturan,” ujar Tumiyarso.

Langkah warga Beteng menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di Sleman tidak selalu harus menunggu program besar. Dari sumur kompos di halaman kampung, tumbuh kesadaran bahwa solusi lingkungan bisa dimulai dari keputusan bersama, dan dijaga dengan konsistensi.(Oi)

Sumber: Infopublik.id