Scroll untuk baca artikel
FavoritePemerintahPendidikan

Wali Kota Dorong Mahasiswa Kuasai Hard dan Soft Skill

×

Wali Kota Dorong Mahasiswa Kuasai Hard dan Soft Skill

Sebarkan artikel ini

Nalar kritis dan komunikasi jadi bekal hadapi era post-truth.

Wali Kota Yogyakarta dorong mahasiswa kuasai hard skill dan soft skill serta berpikir kritis di era post-truth. foto: Dok Warta.jogjakota.go.id

Yogyakarta, VoiceJogja.com – Ruang Auditorium FISIP UAJY terasa hidup ketika isu “era post-truth” dibedah bersama mahasiswa. Di tengah arus informasi yang kerap simpang siur, masa depan generasi muda Jogja dipertaruhkan pada satu hal: kemampuan berpikir kritis dan membaca realitas secara utuh.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengingatkan, penguasaan hard skill saja tidak lagi cukup. Mahasiswa perlu membangun soft skill dan kepekaan sosial agar mampu bertahan dan berkontribusi di tengah perubahan zaman.

Foto: Dok Warta.Jogjakota.go.id

Membaca Ekosistem Kehidupan 

Dalam diskusi “Seni Berpikir Kritis di Era Post-Truth” yang digelar melalui kolaborasi Kompas.com dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Hasto menekankan pentingnya memahami ekosistem kehidupan.

“Kalau kita ingin menjamin kehidupan dan masa depan, kita harus mampu membaca ekosistem. Kalau tidak, kita bisa terbentur-bentur, bisa tersesat,” ujarnya.

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup unggul secara akademik. Mereka perlu memahami dinamika sosial, politik, dan lingkungan sekitar agar tidak kehilangan arah ketika memasuki dunia profesional.

Hard Skill dan Soft Skill Harus Seimbang 

Hasto menyoroti kecenderungan pendidikan tinggi yang lebih banyak menekankan hard skill. Padahal, di lapangan, kemampuan komunikasi, empati, dan adaptasi sering menjadi penentu keberhasilan.

“Di kampus mungkin 90 persen kita diajarkan hard skill. Padahal di lapangan, 80 persen kesuksesan ditentukan oleh soft skill,” tegasnya.

Sebagai dokter yang masih aktif praktik, ia memberi contoh nyata. Ada dokter dengan indeks prestasi tinggi tetapi pasiennya sedikit karena komunikasi kurang baik. Sebaliknya, ada yang nilai akademiknya biasa, namun dipercaya banyak pasien.

“Idealnya tentu hard skill bagus, soft skill juga bagus,” tambahnya.

Pesan ini menjadi relevan bagi mahasiswa Jogja yang kelak akan bersaing di dunia kerja dan ruang publik yang semakin kompleks.

Foto: Dok Warta.jogjakota.go.id

Validasi Informasi di Era Post-Truth

Dekan FISIP UAJY, Victoria Sundari Handoko, menilai forum ini sebagai ruang kolaboratif antara media dan kampus untuk membangun profesionalitas mahasiswa yang kritis.

Ia mengingatkan bahwa di era post-truth, mahasiswa tidak boleh mudah percaya pada satu narasi, baik dari media sosial maupun pertemuan langsung.

“Kita harus memvalidasi apa yang kita dengar, lihat, dan baca. Apakah benar atau tidak. Karena kita hidup di era post-truth,” ujarnya.

Diskusi ini menjadi pengingat bahwa Jogja sebagai kota pelajar memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara karakter dan nalar.

Di tengah derasnya disinformasi, kemampuan berpikir kritis dan penguasaan soft skill bukan lagi pilihan. Ia menjadi fondasi agar mahasiswa Yogyakarta mampu menjaga kualitas demokrasi, profesionalitas, dan masa depan kota ini.(Oi)

Sumber: warta.jogjakota.go.id