Bantul, VoiceJogja.com – Sorak suporter di Stadion Sultan Agung, Bantul, sempat berubah hening ketika gawang PSIM Yogyakarta kebobolan tiga gol. Namun malam itu tak berakhir dengan kekecewaan semata.
Laskar Mataram bangkit dan menyamakan kedudukan menjadi 3-3 saat menghadapi Bali United FC pada pekan ke-22 BRI Super League 2025/26. Hasil imbang ini menyisakan satu poin sekaligus pekerjaan rumah bagi PSIM.
Bangkit dari Tertinggal Tiga Gol
PSIM harus menerima tekanan sejak babak pertama. Bali United unggul melalui Thijmen Goppel pada menit ke-34, disusul Tim Receveur pada 45+3, dan Irfan Jaya menit ke-55.
Tertinggal tiga gol, PSIM menunjukkan daya juang. Savio Sheva Maresca memperkecil ketertinggalan pada menit ke-65.
Gol bunuh diri Ricky Fajrin di menit ke-88 membuka harapan. Franco Ramos Mingo kemudian menyelamatkan keadaan lewat sundulan pada menit 90+1.
Kartu merah untuk Joao Ferrari pada menit ke-72 turut memengaruhi jalannya pertandingan dan membuat lini pertahanan Bali United goyah.
Evaluasi Struktur dan Komunikasi
Pelatih PSIM, Jean Paul Van Gastel, mengakui laga tersebut menguras tenaga dan emosi.
“Ini pertandingan yang sulit karena kita tertinggal di babak pertama. Kami merespons di babak kedua, tetapi justru kembali kebobolan,” ujarnya.
Ia mengapresiasi kebangkitan tim, namun menyoroti persoalan mendasar.
“Saya rasa masalah tim saat ini bersifat struktural, salah satunya komunikasi antarpemain. Jika mencermati proses kebobolan awal, seolah-olah kita memberikan kesempatan tersebut secara cuma-cuma kepada lawan,” ucapnya.
Menurutnya, komunikasi yang solid menjadi fondasi penting dalam menjaga konsistensi PSIM di kompetisi yang ketat.
Perubahan Taktik dan Harapan Lanjutan
Dalam posisi tertinggal, staf pelatih merombak strategi dengan memasukkan tiga pemain pada awal babak kedua. Pendekatan menyerang dengan dua striker sekaligus terbukti mengubah ritme permainan.
“Hal berbeda kita lakukan pada paruh kedua adalah bermain menyerang dengan menempatkan dua striker secara bersamaan. Di sisi lapangan kita menang jumlah pemain sehingga tim bisa menembus sepertiga akhir pertahanan lawan secara mudah,” jelas Van Gastel.
Tambahan satu poin membuat PSIM kini mengoleksi 33 poin dari 22 laga dan berada di peringkat ke-7 dari 18 tim, dengan catatan delapan kemenangan, sembilan imbang, dan lima kekalahan.
Pada pekan ke-23, PSIM akan menghadapi PSBS Biak di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Jumat (27/2) malam.
Bagi Jogja, hasil ini menjadi cermin bahwa mentalitas sudah teruji, namun komunikasi dan struktur tim perlu dibenahi. Di tengah persaingan BRI Super League, Laskar Mataram dituntut bukan hanya berjuang, tetapi juga tumbuh lebih solid demi menjaga asa musim ini.(Oi)
Sumber: Ileague.id














