Yogyakarta, Voicejogja.com – Di ruang-ruang kuliah Yogyakarta, diskusi tentang agama tak lagi hanya bergema di tingkat lokal. Kini, gaungnya menjangkau dunia, ketika UIN Sunan Kalijaga menembus peringkat 7 global bidang religious studies.
Bagi Jogja, capaian ini bukan sekadar angka. Ia menjadi penanda bahwa tradisi intelektual yang tumbuh di kota ini mampu berdialog dan diakui di panggung internasional.
Jogja Menguat di Peta Akademik Dunia
Pemeringkatan SCImago Institutions Rankings (SIR) 2026 menempatkan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di posisi ke-7 dunia untuk bidang religious studies.
Posisi ini bahkan berada tiga tingkat di atas Harvard University, menjadikannya salah satu capaian paling menonjol dalam sejarah perguruan tinggi keagamaan Islam Indonesia.
Selain UIN Yogya, tiga PTKIN lain juga masuk 25 besar dunia: UIN Ar-Raniry Banda Aceh di peringkat 14, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di posisi 21, dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung di peringkat 25.
Kerja Panjang di Balik Pengakuan
Pemeringkatan SCImago didasarkan pada kinerja riset, inovasi, dan dampak sosial—tiga aspek yang selama ini menjadi fokus penguatan di lingkungan PTKIN.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Suyitno, menilai capaian ini sebagai hasil dari strategi yang dijalankan secara konsisten.
“Prestasi ini adalah bentuk real dari rekognisi internasional atas kualitas PTKIN,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan publikasi bereputasi, kolaborasi riset lintas negara, hingga peningkatan kapasitas akademik menjadi faktor penting di balik capaian tersebut.
Lebih dari Sekadar Peringkat
Bagi Jogja, keberhasilan ini membawa makna yang lebih luas. Kota ini tidak hanya dikenal sebagai pusat budaya, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya pemikiran keislaman yang moderat dan inklusif.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron, menyebut capaian ini sebagai indikator kuat keberhasilan internasionalisasi pendidikan tinggi keagamaan.
“Kita melihat bagaimana peningkatan kualitas riset dan jejaring global memberikan dampak signifikan terhadap reputasi akademik di dunia internasional,” katanya.
Arah Baru Keilmuan dari Jogja
Capaian ini membuka peluang lebih besar bagi Jogja untuk memperluas jejaring global dan memperkuat posisinya sebagai pusat keunggulan studi keislaman.
Bukan hanya soal reputasi, tetapi juga tentang kontribusi keilmuan yang bisa memberi dampak lebih luas, baik bagi Indonesia maupun dunia.
Di tengah arus globalisasi, Jogja menunjukkan bahwa tradisi dan pengetahuan bisa berjalan beriringan, menghadirkan wajah keilmuan yang relevan, terbuka, dan berdaya saing.(Oi)
Sumber: Kemenag














