Scroll untuk baca artikel
BisnisFavoritePemerintahWisata

Tiket Pantai Selatan Rp5.000 Dikaji, Bantul Uji Skema Baru

×

Tiket Pantai Selatan Rp5.000 Dikaji, Bantul Uji Skema Baru

Sebarkan artikel ini

Fleksibilitas wisata dan keberlanjutan pengelolaan jadi pertimbangan.

Usulan tiket Pantai Selatan Rp5.000 per destinasi dikaji Bupati Bantul. Skema baru diuji demi fleksibilitas wisata dan keberlanjutan. foto: Dok Bantulkab.go.id

Bantul, VoiceJogja.com – Ramadan biasanya membawa suasana berbeda di pesisir selatan Bantul. Namun belakangan, pelaku wisata merasakan kunjungan yang tak seramai tahun-tahun sebelumnya. Harga tiket masuk kawasan Pantai Selatan kembali menjadi perbincangan, karena berdampak langsung pada perputaran ekonomi warga.

Di tengah harapan wisatawan yang ingin lebih fleksibel memilih destinasi, muncul usulan tiket Rp5.000 per pantai. Skema ini sedang dikaji sebagai alternatif tiket terusan yang selama ini berlaku.

Usulan dari Pengelola Pantai

Audiensi antara pengelola wisata pesisir selatan dan Bupati Bantul Abdul Halim Muslih digelar di Lobi Gedung Induk Kompleks Parasamya I, Selasa (3/3/2026).

Ketua Desa Wisata Pantai Goa Cemara, Bayu Sujaka, mengusulkan opsi tiket masuk per destinasi sebesar Rp5.000 per pantai. Menurutnya, pilihan tiket non-terusan akan memberi keleluasaan bagi wisatawan.

Ia juga mengusulkan agar sebagian pendapatan retribusi dapat dikembalikan langsung kepada pengelola, serta pembenahan pos retribusi agar pengelolaan lebih optimal.

Pengelola Pantai Baru menyampaikan hal serupa. Nominal tiket terusan dinilai terkesan mahal dan berdampak pada penurunan kunjungan, khususnya selama Ramadan.

Antara Harga Tiket dan Kesejahteraan

Menanggapi usulan tersebut, Abdul Halim Muslih menegaskan bahwa tujuan utama pengelolaan wisata adalah meningkatkan kesejahteraan pelaku pariwisata.

Menurutnya, besaran harga tiket bukan satu-satunya persoalan. Bahkan opsi pembebasan tiket pun dapat dipertimbangkan.

“Akan tetapi tujuannya itu harus jelas, wisatawan bertambah, spending money akan semakin bertambah karena dibebaskan, tetapi kita juga punya kemampuan untuk merawat, kemampuan untuk memperbaiki objek itu,” katanya.

Pernyataan itu menegaskan bahwa tiket Pantai Selatan bukan sekadar angka, melainkan bagian dari ekosistem ekonomi dan keberlanjutan kawasan.

Tantangan Pengelolaan Pantai Selatan

Wisata pantai di Bantul membutuhkan biaya perawatan besar. Abrasi, angin kencang, kecelakaan laut, hingga kebutuhan early warning system menjadi tantangan rutin.

Foto: Dok Bantulkab.go.id

Dukungan relawan dan sistem keamanan juga harus terus diperkuat untuk menjamin keselamatan wisatawan. Karena itu, setiap kebijakan tarif harus mempertimbangkan kemampuan merawat kawasan.

Sebagai alternatif, Bupati mewacanakan pembebasan tiket dengan optimalisasi pajak restoran bagi pelaku usaha kuliner di kawasan pantai.

“Maka kalau retribusi ini diturunkan, kita harus sadar kebutuhan ini nanti bagaimana. Maka tadi saya wacanakan sekalian bagaimana kalau lapak-lapak ini nanti kita tentukan pajak restoran,” ungkapnya.

Uji Coba Skema Baru

Di akhir pertemuan, Abdul Halim Muslih menyatakan akan melakukan uji coba skema harga tiket masuk yang diusulkan pengelola pesisir Pantai Selatan dalam waktu mendatang.

Bagi Bantul dan Yogyakarta secara luas, keputusan ini bukan hanya soal retribusi, tetapi arah pengelolaan pariwisata yang adil dan berkelanjutan.

Pantai Selatan adalah wajah ekonomi warga, ruang rekreasi keluarga, sekaligus kawasan dengan risiko alam yang nyata. Karena itu, kebijakan tiket perlu menjaga keseimbangan antara keterjangkauan wisatawan dan kemampuan merawat alamnya.

Di sanalah masa depan wisata Pantai Selatan Bantul sedang ditentukan, agar tetap hidup, aman, dan memberi manfaat bagi masyarakatnya.(Oi)

Sumber: Bantulkab.go.id