Sumba Timur, VoiceJogja.com – Waingapu, Sumba Timur, kini memiliki sentuhan baru dalam pembangunan ekonomi lokal. Kawasan tambak udang terintegrasi hadir bukan sekadar proyek, tetapi sebagai peluang bagi warga setempat untuk ikut merasakan manfaat pertumbuhan industri perikanan berkelanjutan.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memulai pembangunan kawasan tambak udang terintegrasi di Desa Palakahembi dan Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur. Proyek ini menandai langkah strategis pemerintah dalam memperkuat industri budi daya perikanan nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, Tb Haeru Rahayu, menjelaskan bahwa kawasan ini dikembangkan dengan konsep Integrated Shrimp Farming (ISF). Semua aspek hulu dan hilir diperhatikan, mulai dari intake air laut, tandon utama, kolam budidaya, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), fasilitas kawasan, penghijauan, hingga pengadaan peralatan dan mesin. Luas lahan yang dikembangkan mencapai sekitar 2.150 hektare, dengan total investasi sebesar USD 500 juta atau setara Rp 7,2 triliun.
“Kawasan ini dirancang sebagai role model pengembangan budi daya udang nasional yang modern, ramah lingkungan, dan berdaya saing global. Target produktivitasnya mencapai 55 ton per hektare per siklus, dengan produksi total 52.800 ton per tahun,” ujar Tebe.
Ia menekankan bahwa pembangunan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat kapasitas sumber daya manusia lokal, menciptakan lapangan kerja, dan menerapkan standar akuakultur berkelanjutan.
Tahap awal konstruksi sudah dimulai, dengan dukungan puluhan alat berat dan penyerapan tenaga kerja lokal yang terus meningkat seiring progres pembangunan. Kehadiran proyek ini diharapkan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Sumba Timur.
Kepala Desa Palakahembi, Arif Maramba, menyambut baik inisiatif ini. Ia menilai proyek tambak udang terintegrasi akan menjadi penggerak ekonomi lokal, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan membuka ruang bagi generasi muda untuk meraih masa depan lebih baik.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono telah menetapkan udang sebagai salah satu komoditas unggulan ekspor nasional.
Langkah ini menegaskan peran strategis pembangunan kawasan tambak terintegrasi sebagai motor penggerak budi daya udang modern di Indonesia, sekaligus mendorong produktivitas dan kualitas usaha masyarakat lokal.
Bagi warga Sumba Timur, proyek ini lebih dari sekadar tambak. Ia adalah peluang untuk turut serta dalam rantai nilai industri perikanan, belajar praktik akuakultur modern, dan memanfaatkan potensi ekonomi yang sebelumnya tersembunyi, sekaligus menjaga lingkungan agar tetap lestari.
sumber: KKP














