Gunungkidul, Voicejogja.com – Suara gamelan dan gemuruh tawa warga menyatu di malam Syawalan Gunungkidul. Di tengah suasana Lebaran yang hangat, wayangan hadir bukan sekadar hiburan, tetapi ruang menjaga kebersamaan dan warisan budaya.
Bagi warga, momen ini bukan hanya perayaan, melainkan cara merawat rasa memiliki terhadap tradisi yang terus hidup di tengah perubahan zaman.
Syawalan yang Menyatukan warga
Rangkaian Syawalan yang digelar di Ndalem Geblug, Kalurahan Kenteng, Kapanewon Ponjong, menghadirkan dua suasana dalam satu hari. Sejak pagi hingga sore, kegiatan diikuti kalangan kedinasan, lalu berlanjut terbuka untuk masyarakat umum menjelang petang.
Warga dari berbagai latar belakang hadir, membaur tanpa sekat. Momentum ini menjadi ruang temu yang tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan di tengah kehidupan sosial yang terus bergerak.
Dalam suasana Lebaran, nilai guyub dan saling menghormati terasa nyata, menghadirkan Jogja (khususnya Gunungkidul) sebagai ruang hidup yang menjaga harmoni.
Wayangan, Menjaga Akar Budaya
Puncak acara diisi dengan pertunjukan wayang kulit yang dimulai pada malam hari. Dalang Ki Bekel Cermo Sulino membawakan lakon “Begawan Ciptoning”, menghadirkan kisah yang sarat makna kehidupan.
Kehadiran wayangan di tengah Syawalan menjadi jembatan antara generasi lama dan muda, agar nilai-nilai budaya tetap tersampaikan secara alami.
Ditambah dengan penampilan bintang tamu seperti Mbah Waluyo, Mbak Suhin, dan Mas Gatot Sujarno, suasana menjadi semakin hidup dan dekat dengan masyarakat.
Lebaran, Budaya, dan Masa Depan Jogja
Syawalan di Gunungkidul menunjukkan bahwa tradisi tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia menjadi bagian dari cara masyarakat menjaga identitas sekaligus memperkuat hubungan sosial.
Kehadiran berbagai tokoh, termasuk unsur lintas agama, juga memperlihatkan bahwa ruang budaya mampu merangkul keberagaman dalam satu suasana yang hangat.
Di tengah arus modernisasi, langkah seperti ini menjadi penting agar Jogja tetap berdiri sebagai pusat budaya yang hidup, bukan sekadar dikenang.(Oi)
Sumber: Gunungkidulkab.go.id














