Scroll untuk baca artikel
DaerahBudayaFavorite

Syawalan Caturtunggal, Pamong Dikuatkan Nilai Spiritual

×

Syawalan Caturtunggal, Pamong Dikuatkan Nilai Spiritual

Sebarkan artikel ini

Dari pengajian, pelayanan publik diarahkan lebih adil dan manusiawi

Syawalan di Caturtunggal jadi momentum penguatan nilai spiritual pamong untuk pelayanan publik yang lebih adil dan manusiawi. foto: Istimewa

Sleman, Voicejogja.com – Suasana pendopo di Caturtunggal terasa lebih hening dari biasanya. Di tengah bulan Syawal, para pamong berkumpul, bukan untuk rapat atau administrasi, tetapi untuk menata kembali niat dalam melayani warga.

Di ruang seperti inilah, arah pelayanan publik Jogja sering kali dimulai—dari kesadaran batin, bukan sekadar aturan.

Syawalan Jadi Ruang Refleksi Pelayanan

Pemerintah Kalurahan Caturtunggal menggelar Pengajian Pamong di Pendopo Puspadenta, diikuti seluruh aparatur kalurahan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari momentum Syawalan, memperkuat nilai spiritual dan moral dalam menjalankan tugas pelayanan publik.

Bagi pamong, momen ini bukan sekadar rutinitas, tetapi ruang untuk kembali ke fitrah setelah menjalani Ramadan.

Pesan Syukur dan Keadilan dalam Kepemimpinan

Dalam tausyiahnya, Ustaz Zulkarnain dari Padukuhan Karangmalang menekankan pentingnya syukur dan keadilan sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.

Ia mengingatkan bahwa rasa syukur bukan sekadar ucapan, melainkan jalan menuju kebahagiaan yang dijanjikan.

“Keadilan merupakan fondasi utama dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan sejahtera. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad saw, pemimpin yang adil akan mendapatkan keistimewaan di hadapan Allah Swt,” ujarnya.

Sedekah dan Kepedulian Sosial

Selain itu, pengajian juga mengangkat pentingnya berbagi sebagai bentuk kepedulian sosial.

Sedekah disebut tidak hanya memberi manfaat bagi penerima, tetapi juga membuka jalan keberkahan bagi yang memberi.

Nilai ini menjadi penting dalam konteks pelayanan publik, di mana empati dan kepedulian menjadi bagian dari tugas sehari-hari.

Memaknai Syawalan Lebih dari Seremonial

Memasuki bulan Syawal, tradisi Syawalan diajak untuk dimaknai lebih dalam.

Bukan sekadar silaturahmi, tetapi momentum untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan antarsesama.

“Tradisi Syawalan hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial dan silaturahmi semata. Tetapi juga sebagai momentum untuk saling memaafkan dengan tulus serta memperbaiki hubungan antarsesama,” kata Ustaz Zulkarnain.

Jogja dan Arah Pelayanan yang Berakar Nilai

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kualitas pelayanan publik tidak hanya ditentukan oleh sistem, tetapi juga oleh nilai yang dipegang para pelaksananya.

Ketika pamong bekerja dengan kesadaran akan amanah, pelayanan menjadi lebih dari sekadar kewajiban, ia menjadi bentuk pengabdian.

Di Caturtunggal, langkah kecil ini menjadi bagian dari cara Jogja menjaga masa depannya: dengan merawat nilai, sebelum membangun yang lain.(Oi)

Sumber: Infopublik.id