Sleman, VoiceJogja.com — Di tengah arus mode cepat dan identitas yang kian cair, sebuah gerakan kecil tumbuh dengan keyakinan besar di Sleman. Melalui Komunitas Pria Bersurjan, Saifudin Yuhri Hafid mengajak warga Jogja menengok kembali jati diri, bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai sikap hidup yang relevan di hari ini.
Di kawasan Nusupan, Trihanggo, suasana terasa berbeda. Tidak ada baliho promosi atau gegap gempita acara besar. Yang tampak justru sekelompok pria dengan surjan melekat di tubuh mereka, busana tradisional yang selama ini kerap dianggap hanya pantas hadir di upacara adat atau dinding museum.
Di ruang publik modern, surjan sering kali dipandang canggung, bahkan asing. Tidak jarang, pemakainya dianggap “tidak zaman” atau sekadar sedang berperan dalam acara budaya. Di titik inilah kegelisahan Saifudin bermula, ketika simbol budaya perlahan kehilangan tempatnya dalam kehidupan sehari-hari, bukan karena ditolak, tetapi karena dilupakan.
Bagi Saifudin, surjan bukan sekadar pakaian. Ia menyebutnya sebagai busana takwa, warisan nilai dari Sunan Kalijaga yang mengajarkan kesantunan, kerendahan hati, dan kesadaran diri. Ketika surjan dikenakan, ada sejarah yang ikut dijaga, ada martabat yang dirawat, bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk dihidupi.

Pertanyaan sederhana kemudian muncul, mengapa pria Jawa sering merasa kikuk mengenakan busana tradisinya sendiri di ruang publik, sementara simbol budaya lain justru diterima sebagai tren? Di tengah gempuran budaya instan dan global, Saifudin melihat karakter pelan-pelan tergerus. Surjan pun menyempit maknanya, hanya muncul saat hajatan atau seremoni.
Melalui Komunitas Pria Bersurjan, ia mencoba membalik keadaan itu. Surjan dibayangkan hadir kembali dalam keseharian, dipakai saat bekerja, berbelanja, atau bercengkerama. Bukan untuk romantisme masa lalu, melainkan sebagai upaya menormalkan budaya agar tidak terasa asing di tanahnya sendiri.
Gerakan ini dijalankan dengan tiga misi utama. Pertama, edukasi literasi budaya, membedah sejarah, filosofi, dan pakem penggunaan surjan agar tidak berhenti sebagai kostum. Kedua, membangun ruang solidaritas lintas profesi.
Dalam balutan surjan, buruh, seniman, hingga pejabat duduk setara, tanpa sekat sosial. Ketiga, menjadi benteng budaya, agar generasi muda tetap memiliki rujukan identitas yang hidup, bukan sekadar arsip.

Basecamp komunitas di Nusupan, Trihanggo, Gamping kini menjadi ruang belajar sekaligus rumah bersama. Siapa pun yang ingin memahami filosofi surjan atau belajar mengenakannya dengan benar dipersilakan datang. Di ruang ini, budaya diperlakukan sebagai praktik sehari-hari, bukan wacana elitis.
Bagi Jogja, ikhtiar ini menyimpan makna yang lebih luas. Kota ini tidak hanya dikenal sebagai pusat pendidikan dan pariwisata, tetapi juga sebagai ruang hidup nilai-nilai. Ketika warganya berani merawat simbol budaya dengan penuh kesadaran, keberlanjutan identitas tidak lagi bergantung pada seremoni, melainkan tumbuh dari keseharian.
Saifudin menutup refleksinya dengan pesan yang tenang namun menggugah, budaya adalah benteng terakhir. Jika hari ini surjan hanya dipandang sebagai benda museum, masa depan tak punya cukup alasan untuk mengenalnya sebagai bagian dari hidup. Di titik inilah, surjan kembali menjadi pernyataan sikap, tentang siapa kita, dan bagaimana Jogja menjaga dirinya.














