Scroll untuk baca artikel
Berita UnggulanBudayaFavoriteLifestyleOpiniPendidikan

Suluk Aksara Kotagede, Jalan Pulang Jati Diri Nusantara

×

Suluk Aksara Kotagede, Jalan Pulang Jati Diri Nusantara

Sebarkan artikel ini

Pawiyatan TAN Triguna menutup kelas Kawi dengan pesan kebudayaan untuk Jogja.

Suluk Aksara di Kotagede menutup kelas Aksara Kawi, menguatkan jati diri Nusantara lewat Pawiyatan TAN Triguna. Foto: Supriyadi

Kotagede, VoiceJogja.com – Di bawah terik matahari tepat pukul 12.00 WIB, pelataran Peken Kelangenan Kotagede mendadak hening. Lantunan puisi Jawa Kuna mengalun pelan, mengiringi penutupan kelas Aksara Kawi yang bagi para pesertanya terasa seperti perjalanan batin.

Suluk Aksara yang digagas Pawiyatan Taman Aksara Nusantara (TAN) Triguna bukan sekadar kursus menulis huruf kuno. Ia menjadi ruang bagi warga Jogja untuk menyambung kembali ingatan budaya yang perlahan menjauh dari generasi hari ini.

Foto: Dok Pribadi Supriyadi

Menutup Kelas, Membuka Kesadaran

Minggu Pon (15/2) menjadi penanda berakhirnya pembelajaran dasar Aksara Kawi yang digelar selama tujuh pertemuan, seminggu sekali. Penutupan dilakukan secara simbolis oleh Owner Peken Kelangenan Kotagede, Titi Awang, yang mengapresiasi keberanian peserta meluangkan waktu di tengah modernitas untuk mencintai kembali warisan leluhur.

Pawiyatan TAN Triguna sendiri didirikan oleh Supriyadi, S. Fil. pada 8 September 2024. Sejak awal, ia menekankan bahwa belajar aksara adalah sebuah suluk, perjalanan menuju kesempurnaan hidup.

“Aksara adalah sesuatu yang kekal. Ia adalah manifestasi dari pengetahuan yang melampaui zaman,” ujar Supriyadi.

Bagi peserta, mempelajari guratan kuno bukan hanya soal teknik menulis, tetapi upaya mengenali jati diri sebagai individu, sebagai bagian masyarakat, dan sebagai bangsa Nusantara.

Foto: Dok Pribadi Supriyadi

Dari Kotagede ke Ruang-Ruang Komunal Jogja

Sejak berdiri, Pawiyatan TAN Triguna yang berafiliasi dengan Taman Sesaji Nusantara mengusung konsep pembelajaran berpindah-pindah atau mider ring rat.

Di Graha Selatan, aksara menjadi ruang dialog bagi budayawan dan seniman. Di Museum Wayang Beber Sekartaji Bambang Lipuro, mahasiswa dan guru terlibat aktif. Di Omah Aksara Pundong, perangkat desa hingga anak-anak ikut belajar. Sementara di Peken Kelangenan Kotagede, pengrajin, pegawai museum, bahkan turis asing ambil bagian.

Gerakan ini lahir di tengah dominasi aksara Latin yang menguat sejak awal abad ke-20 melalui pendidikan kolonial. Proses transliterasi bahasa daerah ke huruf Latin perlahan memutus hubungan emosional masyarakat dengan naskah aslinya.

Akibatnya, banyak generasi muda merasa asing terhadap aksara, bahasa, dan sastra daerahnya sendiri. Naskah kuno yang menyimpan kearifan hidup pun kerap menjadi benda bisu tanpa pembaca.

Foto: Dok Pribadi Supriyadi

Belajar Aksara Sebagai Jalan Pulang

Supriyadi mengingatkan bahwa keruntuhan bangsa sering bermula dari penghancuran budayanya, memutus sejarah, menjauhkan bahasa, dan membuat masyarakat asing terhadap aksaranya sendiri.

Melalui Pawiyatan TAN Triguna, ia ingin masyarakat memahami bahwa Suluk Aksara adalah jalan pulang. Menguasai kembali Aksara Kawi berarti membaca ulang “DNA” spiritualitas bangsa yang tertanam dalam teks-teks lama.

Metode yang digunakan adalah Pendidikan Orang Dewasa (POD) atau andragogi. Peserta tidak diperlakukan sebagai bejana kosong, melainkan individu berpengalaman yang belajar melalui refleksi hidup, eksplorasi makna, dan relevansi sosial.

Target kelas dasar ini adalah penyambungan kembali mata rantai ingatan. Peserta dituntut mampu mengenali dan menulis karakter Kawi sesuai kaidah, mendemistifikasi kesan “keramat”, serta membangun kepercayaan diri menunjukkan identitas Nusantara.

Dari Kaligrafi Hingga Produk Kreatif

Penutupan di Kotagede menjadi panggung pembuktian. Karya peserta dipamerkan: portofolio tata tulis, kaligrafi aksara, prototipe kerajinan dan suvenir berbasis Kawi, hingga penyerahan karya sebagai inventaris Balai Kaweruh di Peken Kelangenan.

Foto: Dok Pribadi Supriyadi

Wulan, salah satu peserta, menyebut belajar Kawi sebagai meditasi. “Setiap lengkungan hurufnya seperti menata kembali serpihan jati diri yang sempat hilang,” tuturnya.

Tini, berlatar belakang pengrajin, mulai menerapkan aksara dalam karya sulaman dan suvenir. “Agar benda-benda fungsional kita punya ‘nyawa’ Nusantara,” katanya.

Gilen, peserta dari Kanada, mengaku kini mampu membaca prasasti yang sebelumnya terasa seperti batu mati. “Sekarang batu-batu itu seolah mulai bicara,” ujarnya.

Para pengampu seperti Mas Anang, Mbak Lastri, dan Suwandi mendorong peserta terus mengasah kemampuan, termasuk membaca prasasti dan menggubah puisi dalam Aksara Kawi.

“Aksara adalah ‘A-Ksara’, yang tak pernah musnah. Harapan saya, para alumni ini menjadi duta budaya di lingkungannya masing-masing,” pungkas Supriyadi, sembari membuka pintu Kelas Madya untuk pendalaman tata bahasa dan sastra Jawa Kuna.

Di jantung Kotagede, Suluk Aksara menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan nostalgia, melainkan fondasi masa depan. Ketika warga Jogja kembali akrab dengan Aksara Kawi, yang tumbuh bukan sekadar literasi, tetapi kesadaran bahwa identitas adalah kekuatan.

Jogja tidak hanya menjaga bangunan bersejarahnya. Ia juga menjaga huruf-huruf yang menyimpan ruh peradaban.(MD)