Jakarta, Voicejogja.com – Banyak orang ingin hidupnya naik level, tetapi tidak semua siap menghadapi prosesnya. Padahal, seperti saat sekolah dulu, setiap kenaikan tingkat selalu datang bersama ujian yang lebih sulit.
Pesan itulah yang disampaikan pengusaha sekaligus ahli hipnoterapi, Mahmudi BM, dalam refleksinya tentang perjalanan hidup dan bisnis. Bagi banyak orang, terutama pelaku usaha dan generasi muda, cara memaknai tantangan sering kali menentukan sejauh mana seseorang mampu bertahan.
Beban atau Tantangan
Mahmudi menggambarkan bahwa naik level dalam hidup dapat dipandang sebagai beban ataupun tantangan. Cara seseorang memaknainya akan memengaruhi semangat dan ketahanan mental dalam menjalani proses.
“Jika dianggap beban maka kita cenderung mengeluh, merasa berat dan tak semangat. Sebaliknya jika kita anggap tantangan maka kita cenderung bersyukur, merasa senang dan semangat,” tulisnya.
Dalam dunia bisnis, menurutnya, kenaikan level selalu memiliki konsekuensi. Ada usaha ekstra, kerja keras, hingga tekanan yang harus dijalani sebelum seseorang mencapai hasil yang lebih besar.
Namun di balik proses itu, selalu ada hadiah yang menanti.
Proses yang Tidak Instan
Mahmudi mengingatkan bahwa setiap orang sejatinya pernah melalui fase naik level dalam hidupnya. Mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga membangun usaha, semua membutuhkan proses belajar dan keberanian menghadapi kegagalan.
Ia menilai tantangan hari ini memang mungkin berbeda, tetapi prinsip bertumbuh tetap sama: mau belajar, terus mencoba, dan tidak berhenti melangkah.
“Sesungguhnya lawan dari sukses bukanlah gagal tapi berhenti,” ujarnya.
Pesan ini menjadi relevan di tengah situasi ekonomi dan persaingan kerja yang semakin dinamis. Banyak anak muda maupun pelaku UMKM di Yogyakarta dituntut terus beradaptasi agar mampu bertahan sekaligus berkembang.
Bertumbuh Bersama Perubahan
Bagi masyarakat Jogja yang dikenal kuat dengan budaya ketekunan dan gotong royong, semangat naik level bukan sekadar tentang pencapaian pribadi. Ada nilai keberanian untuk terus berbenah dan bertumbuh bersama perubahan zaman.
Mahmudi menutup refleksinya dengan ajakan untuk terus melangkah meski prosesnya tidak mudah.
“Kita semua di sini terus melangkah. Terus berbenah. Maka bersiaplah dapat ‘hadiah’,” tutupnya.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, kemampuan bertahan, belajar, dan bangkit kembali mungkin menjadi modal paling penting untuk menghadapi masa depan.(Oi)
Mahmudi BM
Pengusaha & Ahli Hipnoterapi














