KKP, Voicejogja.com – Laut kini bukan lagi sekadar jalur pelayaran atau ruang ekonomi biasa. Di tengah memanasnya geopolitik global, kawasan maritim berubah menjadi arena perebutan pengaruh yang ikut menentukan stabilitas pangan, energi, hingga perdagangan dunia.
Situasi itu menjadi perhatian Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang mulai menyiapkan sumber daya manusia maritim agar lebih adaptif menghadapi perubahan global. Langkah tersebut dibahas dalam kuliah umum bertema “Transformasi Strategi Kemaritiman dalam Dinamika Geopolitik Kawasan” yang digelar melalui BPPSDM KP di Politeknik AUP Jakarta.
KKP: Laut Jadi Arena Perebutan Pengaruh Dunia
Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio menegaskan kawasan Indo-Pasifik saat ini menjadi titik paling sensitif dalam dinamika geopolitik dunia.
Konflik Rusia-Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, hingga potensi konflik di Laut China Selatan dan Selat Taiwan disebut berdampak langsung terhadap keamanan maritim dan ekonomi global.
“Laut hari ini bukan sekadar jalur transportasi, tetapi ruang strategis perebutan kepentingan global. Siapa yang menguasai laut, dia mengendalikan arus logistik, energi, dan ekonomi dunia,” ujar Marsetio.
Indonesia disebut memiliki posisi penting karena berada di jalur strategis dunia, termasuk Selat Malaka yang dilalui lebih dari 90 ribu kapal setiap tahun.
SDM Maritim Jadi Kunci Masa Depan Indonesia
Di tengah besarnya tantangan tersebut, Kepala BPPSDM KP I Nyoman Radiarta menilai penguatan sumber daya manusia menjadi fondasi utama strategi kemaritiman nasional.
Menurutnya, pembangunan sektor maritim tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur dan regulasi, tetapi juga membutuhkan SDM yang memiliki wawasan global dan mampu membaca perubahan geopolitik.
“Strategi kemaritiman bukan hanya soal menjaga laut, tetapi bagaimana kita memanfaatkan laut untuk memperkuat ketahanan pangan, ekonomi, dan posisi tawar Indonesia di dunia,” kata Nyoman.
KKP saat ini mendorong pembangunan berbasis ekonomi biru yang menempatkan keberlanjutan sebagai pijakan utama.
KKP: Pendidikan Vokasi Maritim Perlu Bertransformasi
Selain penguatan ekonomi biru, pendidikan vokasi kelautan dan perikanan juga didorong agar lebih selaras dengan kebutuhan industri dan tantangan global.
Program seperti kampung nelayan modern, pengembangan budidaya terintegrasi, hingga penguatan konektivitas maritim disebut menjadi bagian dari strategi menghadapi disrupsi global.
Nyoman menegaskan pendidikan maritim ke depan tidak hanya mencetak tenaga kerja, tetapi juga pelaku utama pembangunan yang mampu menciptakan nilai tambah dan menjaga keberlanjutan sumber daya laut.
KKP: Laut Bukan Sekadar Ruang Ekonomi
Kuliah umum tersebut juga menjadi pengingat bahwa laut memiliki makna lebih besar bagi Indonesia sebagai negara kepulauan.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, laut dipandang bukan hanya sebagai sumber ekonomi, tetapi juga pilar kedaulatan bangsa yang menentukan masa depan Indonesia.
Bagi generasi muda, terutama di dunia pendidikan maritim, tantangan ini menjadi momentum untuk melihat laut bukan sebagai batas wilayah, melainkan ruang strategis yang harus dijaga sekaligus dimanfaatkan secara bijak.(Oi)
Sumber: KKP














