Yogyakarta, Voicejogja.com – Aktivitas belanja kebutuhan pokok mulai meningkat di sejumlah pasar tradisional Kota Yogyakarta. Menjelang Idulfitri, warga memastikan stok beras, telur, hingga minyak goreng tersedia cukup untuk kebutuhan rumah tangga.
Di tengah kekhawatiran lonjakan harga pangan setiap Ramadan, kondisi pasokan di kota ini justru menunjukkan tren yang relatif aman. Data terbaru mencatat sejumlah bahan pokok berada dalam kondisi surplus.

Stok Beras Surplus di Kota Yogyakarta
Pasokan beras di Kota Yogyakarta tercatat mencapai sekitar 2.770 ton per minggu, sementara kebutuhan masyarakat berada di kisaran 1.900 ton.
Artinya, masih terdapat kelebihan sekitar 780,8 ton, dengan ketahanan pasokan yang diperkirakan mampu mencukupi kebutuhan masyarakat selama sekitar 1,4 bulan.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi, menyebut kondisi ini menunjukkan ketersediaan bahan pokok utama dalam situasi yang relatif aman.
“Stok pangan di Kota Yogyakarta dalam kondisi cukup bahkan surplus. Selain beras, beberapa komoditas lain juga memiliki cadangan yang memadai,” ujar Sukidi.
Ketersediaan tersebut menjadi kabar baik bagi warga yang mulai mempersiapkan kebutuhan Ramadan hingga Idulfitri.
Telur, Ayam dan Minyak Goreng Juga Aman
Selain beras, sejumlah komoditas pangan lainnya juga tercatat memiliki cadangan yang cukup.
Stok telur ayam tercatat surplus sekitar 129,6 ton dengan ketahanan sekitar 1,2 bulan.
Untuk daging ayam, surplus mencapai 108,3 ton dengan ketahanan sekitar 1,2 bulan.
Sementara itu minyak goreng memiliki surplus sekitar 111,52 ton dengan ketahanan 1,6 bulan, sedangkan gula pasir tercatat surplus 84,33 ton dengan ketahanan hingga 2,3 bulan.
Pasokan bahan pangan tersebut berasal dari berbagai jalur distribusi, mulai dari distributor besar dan kecil, pasar tradisional, hingga jaringan ritel modern di Kota Yogyakarta.
Keberagaman sumber pasokan ini dinilai membantu menjaga stabilitas ketersediaan bahan pokok di pasar.
Harga Cabai Masih Berfluktuasi
Meski ketersediaan bahan pokok relatif aman, beberapa komoditas masih mengalami fluktuasi harga, terutama cabai rawit merah.
Sukidi menjelaskan kondisi ini dipengaruhi faktor cuaca, terutama musim hujan yang berdampak pada produksi di daerah sentra serta biaya distribusi.
“Cabai rawit merah memang paling fluktuatif karena faktor cuaca. Namun secara ketersediaan tetap aman dan tersedia di pasaran,” ujarnya.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Veronica Ambar Ismuwardani, juga mencatat pergerakan harga cabai dalam beberapa waktu terakhir.
Harga cabai rawit sempat turun di kisaran Rp70.000 per kilogram, kemudian naik menjadi Rp85.000, dan saat ini berada di sekitar Rp95.000 per kilogram.
Sementara itu, harga telur ayam justru mengalami penurunan dari sekitar Rp30.000 menjadi Rp29.000 per kilogram.
Adapun harga daging ayam relatif stabil di kisaran Rp39.000 per kilogram.

Pemantauan Harga hingga Pasar Murah
Pemantauan harga bahan pokok dilakukan secara rutin di berbagai titik perdagangan.
Mulai dari pasar tradisional, ritel modern, hingga platform digital, pemantauan ini melibatkan Satgas Pangan dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Dalam waktu dekat, proses pengawasan juga akan melibatkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk memastikan tidak ada praktik usaha yang merugikan konsumen.
Di sisi lain, warga juga dapat mengakses bahan pangan dengan harga terjangkau melalui berbagai program yang tersedia di Kota Yogyakarta.
Di antaranya pasar murah di 14 kemantren, Warung Mrantasi, serta Kios Segoro Amarto yang berada di Pasar Beringharjo, Pasar Sentul, Pasar Prawirotaman, dan Pasar Kranggan.
Program lain yang segera diluncurkan adalah Wamira berbasis wilayah, yang diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok.
Di tengah meningkatnya kebutuhan selama Ramadan, kondisi stok pangan Kota Yogyakarta yang surplus menjadi penyangga penting bagi stabilitas harga sekaligus ketenangan warga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.(Oi)














