Yogyakarta, Voicejogja.com – Malam di Kompleks Kepatihan Yogyakarta terasa lebih tenang dari biasanya. Dalam suasana khidmat, doa dan refleksi mengalir bersama peringatan Hari Jadi ke-271 Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sri Sultan Hamengku Buwono X memimpin Malam Tirakatan Hari Jadi DIY yang tahun ini mengangkat tema Mulat Sarira Jumangkah Jantraning Laku, sebuah ajakan untuk menengok diri sekaligus menata langkah masa depan Yogyakarta.
Tirakatan sebagai Ruang Mengingat Leluhur
Dalam sambutannya, Sultan menegaskan bahwa tirakatan bukan sekadar tradisi tahunan. Bagi Yogyakarta, momentum ini adalah bentuk penghormatan mendalam kepada para leluhur yang telah meletakkan fondasi peradaban di wilayah ini.
Nilai yang diwariskan para pendahulu itulah yang membentuk karakter Daerah Istimewa Yogyakarta hingga hari ini.
Sultan menyebut, rasa hormat dan cinta masyarakat Jogja tertuju kepada para raja dan leluhur dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat maupun Kadipaten Pakualaman, dua pilar sejarah yang menjadi dasar lahirnya tata pemerintahan di DIY.

Menguatkan Rasa Memiliki Yogyakarta
Menurut Sultan, peringatan hari jadi seharusnya menjadi ruang untuk meneguhkan rasa memiliki terhadap Yogyakarta.
Momentum ini juga mengajak masyarakat memperkuat kesetiaan dan komitmen kolektif dalam menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu.
Di tengah perubahan zaman, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan Yogyakarta tetap perlu berpijak pada akar budaya dan kebijaksanaan lokal.
Suasana tirakatan juga diisi dengan doa bersama agar para leluhur memperoleh tempat mulia di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.
Simbol Syukur Perjalanan Panjang Jogja
Puncak acara ditandai dengan prosesi pemotongan tumpeng oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Tumpeng tersebut menjadi simbol rasa syukur atas perjalanan panjang Yogyakarta yang telah melampaui dua setengah abad.
Di balik tradisi sederhana itu tersimpan harapan agar langkah DIY ke depan tetap berjalan dengan keberkahan, keselamatan, dan keteguhan memegang nilai budaya.
Bagi masyarakat Jogja, tirakatan bukan hanya mengenang masa lalu. Ia juga menjadi cara merawat ingatan kolektif bahwa masa depan Yogyakarta tumbuh dari kesadaran untuk selalu mulat sarira, menengok diri sebelum melangkah lebih jauh.(Oi)
Sumber: Gunungkidulkab.go.id














