Yogyakarta, Voicejogja.com – Di sudut-sudut kampung Kota Yogyakarta, perubahan tak selalu hadir dalam bentuk besar. Ia tumbuh dari hal sederhana, warga yang mulai memilah sampah, saling membantu memperbaiki rumah, hingga menjaga lingkungan bersama.
Genap setahun kepemimpinan Hasto-Wawan, arah pembangunan kota terasa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari warga: menata hidup bersama, pelan tapi nyata.
Menata Hidup dari Hal Sederhana
Peringatan satu tahun kepemimpinan digelar di Taman Budaya Embung Giwangan, menghadirkan berbagai elemen masyarakat dalam suasana kebersamaan.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa fokus utama yang dibangun adalah rekonstruksi sosial—“noto urip bareng”.
Gagasan ini mengajak warga untuk membangun kebiasaan hidup yang lebih tertib, sehat, dan berkelanjutan sebagai fondasi kota yang nyaman.
Sampah Jadi Titik Awal Perubahan
Perubahan perilaku menjadi pintu masuk yang paling terasa, salah satunya dalam pengelolaan sampah.
“Dulu masyarakat masih sering buang sampah sembarangan atau war wer, sekarang kita ajak untuk mulai memilah sampah dari rumah,” ujar Hasto.
Edukasi dan pendampingan yang dilakukan perlahan mendorong kesadaran lingkungan, sekaligus membuka jalan menuju sistem ekonomi sirkular di Kota Yogyakarta.

Gotong Royong sebagai Solusi Nyata
Selain perubahan perilaku, nilai gotong royong kembali ditegaskan sebagai kekuatan utama kota.
Program bedah rumah menjadi salah satu wujud konkret. Dilaksanakan rutin setiap minggu, program ini berjalan tanpa menggunakan APBD, melainkan dari kolaborasi warga.
“Warga kurang mampu bisa menyelesaikan kemiskinannya dengan gotong royong. Bedah rumah ini menjadi bukti nyata bahwa kebersamaan bisa menghadirkan solusi,” jelas Hasto.
Dampaknya tidak hanya pada hunian layak, tetapi juga memperkuat ikatan sosial antarwarga.
Turun ke Kampung, Mendengar dan Memberi Contoh
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menambahkan bahwa pendekatan langsung ke masyarakat menjadi bagian penting.
Blusukan ke kampung-kampung bukan sekadar menyerap aspirasi, tetapi juga memberi contoh nyata, termasuk dalam praktik pemilahan sampah.
“Kami tidak hanya mengajak, tapi juga memberi contoh,” ujarnya.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa perubahan kota tidak hanya dirancang, tetapi dijalankan bersama.
Budaya sebagai Arah Ekonomi Jogja
Ke depan, tantangan berikutnya adalah memastikan Yogyakarta tetap tumbuh sebagai kota budaya yang juga produktif secara ekonomi.
Optimalisasi potensi budaya menjadi langkah strategis, termasuk melalui penguatan kalender event dan pengembangan wilayah berbasis budaya.
“Kota budaya harus produktif. Budaya tidak hanya dilestarikan, tapi juga harus bisa memberikan dampak ekonomi,” ungkap Hasto.
Dalam momentum ini, apresiasi diberikan kepada berbagai individu dan komunitas yang berkontribusi dalam pengelolaan lingkungan dan ekonomi sirkular.
Jogja yang Tumbuh dari Warganya
Perjalanan satu tahun ini menunjukkan satu hal: perubahan kota tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dijalankan bersama.
Ketika warga, komunitas, dan pemerintah berjalan searah, Jogja tidak hanya menjadi kota yang nyaman dan aman, tetapi juga ruang hidup yang tumbuh dari partisipasi dan budaya yang dijaga bersama(Oi)
Sumber: warta.jogjakota.go.id














