Yogyakarta, Voicejogja.com – Di tengah riuh kota yang terus bergerak, ada kegelisahan yang tak selalu terlihat. Bukan soal kemacetan atau harga kebutuhan, melainkan tentang arah batin manusia yang kian mudah goyah.
Di Yogyakarta, kegelisahan itu dijawab bukan dengan teknologi baru, tetapi dengan membaca ulang warisan lama: Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, sebuah ajaran yang mengajak manusia menaklukkan dirinya sendiri.
Jalan Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk
Budayawan Jogja, Supriyadi, S.Fil., melihat Sastra Jendra bukan sekadar teks kuno, melainkan peta hidup yang tetap relevan.
Ia menyebut ajaran ini sebagai ilmu yang “memayu hayuning rat”, memperindah dan menyelamatkan dunia, dengan cara paling mendasar: membersihkan batin manusia dari sifat angkara.
“Jika niat tidak suci, Sastra Jendra justru menjadi petaka,” tulisnya dalam kajiannya .
Pandangan ini menempatkan manusia sebagai pusat perubahan. Bukan sekadar objek zaman, tetapi subjek yang menentukan arah peradaban.
Dari Naskah Kuno ke Kehidupan Modern
Sastra Jendra tidak berdiri sendiri. Ia hidup dalam berbagai khazanah Jawa, dari serat klasik hingga lakon wayang yang akrab dengan masyarakat.
Di dalamnya tersimpan pesan yang tak lekang: ilmu setinggi apa pun tidak akan membawa keselamatan tanpa pengendalian diri.
Kisah Resi Wisrawa menjadi cermin yang kuat. Niat luhur berubah menjadi petaka ketika nafsu mengambil alih. Dari sana lahir simbol-simbol sifat manusia—amarah, keserakahan, kemalasan, hingga nurani.
Bagi Supriyadi, cerita itu bukan sekadar mitologi, melainkan peringatan yang terus hidup.
Raksasa Modern di Sekitar Kita
Jogja hari ini tidak lagi berhadapan dengan raksasa dalam wujud cerita. Namun “diyu” itu tetap ada, menjelma dalam bentuk yang lebih dekat: korupsi, kebencian, hingga kecanduan teknologi.
Sastra Jendra, dalam pandangan Supriyadi, mengajarkan proses “ruwatan diri”, sebuah upaya sadar untuk meredam ego dan menghidupkan nurani.
“Mematikan Rahwana dalam diri dan membangkitkan Wibisana adalah tugas manusia modern,” menjadi inti refleksi yang ia tawarkan .
Di titik ini, ajaran lama justru menemukan relevansinya. Ketika kemajuan tidak selalu diikuti kedewasaan, Jogja diingatkan untuk kembali pada keseimbangan.
Jogja sebagai Subjek Kebudayaan
Sebagai kota budaya, Yogyakarta tidak hanya menjaga tradisi dalam bentuk fisik. Ia juga merawat nilai.
Sastra Jendra memberi arah bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan, tetapi jalan hidup. Prinsip “memayu hayuning bawana” mengajak manusia hadir di tengah masyarakat dengan membawa kebaikan.
Sikap wicaksana, andhap asor, dan mampu mengikuti zaman tanpa kehilangan jati diri menjadi fondasi yang ditawarkan.
Nilai-nilai ini bukan romantisme masa lalu. Ia adalah kebutuhan masa depan.
Menjaga Keseimbangan di Masa Depan
Dalam lanskap kota yang terus tumbuh, tantangan Jogja bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan manusia.
Sastra Jendra menawarkan jalan menuju “manunggaling kawula gusti”, kesadaran bahwa manusia dan kehidupan memiliki keterhubungan yang dalam.
Di sanalah keseimbangan ditemukan. Bukan dengan menolak modernitas, tetapi dengan mengendalikannya.
Penutup
Jogja selalu punya cara untuk berbicara pada zamannya. Kadang lewat inovasi, kadang lewat kebijaksanaan lama yang dibaca ulang.
Sastra Jendra mengingatkan bahwa masa depan kota ini tidak hanya ditentukan oleh apa yang dibangun di luar, tetapi juga oleh apa yang dijaga di dalam diri manusia.
Ketika batin tetap jernih, Jogja tidak hanya bertahan sebagai kota budaya, tetapi juga menjadi penuntun arah di tengah dunia yang terus berubah.(Oi/Supriyadi)














