Yogyakarta, VoiceJogja.com – Di balik tembok-tembok tua Mataram, lahir sebuah karya yang tak sekadar indah dibaca, tetapi membentuk cara orang Jawa memahami diri dan Tuhannya. Sastra Gending menjadi penanda kejayaan Mataram sekaligus jejak intelektual yang masih terasa hingga Yogyakarta hari ini.
Bagi Jogja yang tumbuh sebagai pusat kebudayaan Jawa, karya ini bukan sekadar manuskrip lama. Ia adalah fondasi bahasa, sastra, dan cara pandang hidup yang membentuk identitas hingga kini.

Sultan Agung dan Fondasi Keilmuan Mataram
Sultan Agung Hanyakra kusuma lahir pada Jumat Legi, 14 November 1593 M/1514 S, tahun Jimakhir. Nama kecilnya Raden Mas Jadmika atau Pangeran Rangsang. Setelah bertahta, ia bergelar Sultan Agung Hanyakra Kusuma Senapati Ing Ngalaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama.
Ia merupakan putra Prabu Panembahan Hanyakrawati dan Dyah Banowati atau Ratu Mas Hadi. Dari jalur ibu disebut sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, sementara dari jalur ayah tersambung kepada Prabu Brawijaya V.
Sejak kecil, Sultan Agung tumbuh dalam lingkungan religius dan intelektual. Pada usia tujuh tahun ia disebut telah hafidz Al-Qur’an dan berguru kepada sejumlah tokoh, di antaranya Ki Juru Martani, Panembahan Purubaya, hingga Kyai Pengulu Ahmad Kategan.
Kepemimpinannya tidak hanya militer dan politik, tetapi juga spiritual. Ia memosisikan diri sebagai raja sekaligus pandita, menggabungkan otoritas kekuasaan dengan tanggung jawab keagamaan.
Karya Besar dan Tata Peradapan
Pengetahuan luas Sultan Agung melahirkan berbagai gagasan besar. Ia menyinkronkan kalender qamariah dan syamsiah yang kemudian dikenal sebagai kalender Jawa, lengkap dengan penamaan hari, pasaran, bulan, tahun, dan windu.
Dalam politik, ia menerapkan konsep mamayu hayuning bawana untuk menjaga harmoni dunia, sebagai tandingan terhadap ideologi devide et impera Barat.
Struktur pemerintahan Mataram dibagi menjadi Kuta Nagara, Negara Agung, dan Manca Negara, dengan sistem administrasi yang melibatkan wedana, patih, bupati, hingga ribuan abdi dalem.
Di bidang seni, lahir Tari Bedhaya Srimpi dan wayang raksasa seperti Buta Terong, Buta Cakil, hingga Buta Ijo. Dalam arsitektur, ia membangun Keraton Kerta dan Keraton Plered, serta Segarayasa sebagai bagian dari pertahanan dan ketahanan pangan.
Kekuasaan Mataram pada masa Sultan Agung (1613–1645 M) meliputi hampir seluruh Pulau Jawa kecuali Banten dan Batavia, serta Madura dan Sukadana di Kalimantan Barat.

Sastra Gending dan Revolusi Budaya
Di antara seluruh karya itu, Serat Sastra Gending menjadi masterpiece yang menandai revolusi kebudayaan Mataram Islam.
Naskah ini memiliki beberapa versi, antara lain versi Pakualaman Yogyakarta, Museum Sonobudoyo, dan Museum Radya Pustaka Surakarta. Perbedaan terletak pada jumlah pupuh dan bait, namun keseluruhannya memuat struktur tembang seperti Sinom, Asmarandana, Dandanggula, Pangkur, hingga Durma.
Dalam pupuh Sinom, Sultan Agung menegaskan identitasnya sebagai Amirul Mukminin dan Sayidin Panatagama. Ia diposisikan sebagai raja yang mengemban amanat menata kehidupan Mataram berdasarkan ajaran Islam.
Serat Sastra Gending sarat simbol dan alegori. “Sastra” dimaknai sebagai dzat, cipta, atau yang disembah, sedangkan “gending” sebagai sifat, ciptaan, atau yang menyembah. Relasi ini menggambarkan hubungan Gusti dan Kawula dalam perspektif makrifat Jawa.

Aksara Caraka dan Arah Baru Sastra Jawa
Salah satu jejak penting Sastra Gending adalah pengenalan susunan aksara carakan: Ha Na Ca Ra Ka dan seterusnya. Susunan ini merepresentasikan ajaran makrifat Jawa yang dikenal sebagai Martabat Pitu.
Perubahan dari aksara Jawa Kuna ke aksara Carakan menandai revolusi aksara, bahasa, dan sastra. Sejak itu, serat, babad, dan wirid ditulis menggunakan aksara Jawa Baru.
Aksara Carakan tidak lagi sekadar sistem bunyi, tetapi memuat filosofi mendalam tentang asal-usul dan tujuan hidup. Dalam konteks inilah Sastra Gending menjadi tonggak perubahan jagad Jawa.
Bagi Yogyakarta hari ini, Sastra Gending bukan hanya warisan sejarah Mataram. Ia adalah sumber nilai yang membentuk bahasa, tata pikir, dan kebudayaan yang masih hidup di tengah masyarakat.
Di tengah arus globalisasi, mengingat kembali jejak Sultan Agung melalui Sastra Gending berarti merawat akar. Jogja berdiri bukan hanya di atas bangunan fisik, tetapi juga di atas fondasi aksara, sastra, dan makna yang diwariskan lintas abad.(Oi/Supriyadi)














