Yogyakarta, VoiceJogja.com – Di tengah padatnya permukiman Kota Yogyakarta, ruang terbuka hijau (RTH) menjadi napas yang tak tergantikan. Di sanalah anak-anak bisa berlari lebih bebas, warga bertemu tanpa sekat, dan udara kota terasa lebih bersih.
Kini, pemanfaatan RTH Kota Yogyakarta kian diperluas. Tak lagi sekadar ruang hijau, tetapi berkembang menjadi pusat aktivitas warga, ruang edukasi lingkungan, hingga penguatan ekonomi kampung.
Dari Penghijauan ke Ruang Produktif
Melalui Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, pengembangan RTH publik berbasis kampung terus didorong agar memberi dampak langsung bagi kualitas hidup masyarakat.
Kepala Bidang Ruang Terbuka Hijau Publik DLH Kota Yogyakarta, Rina Aryati Nugraha, menjelaskan bahwa RTH mencakup seluruh area hijauan di wilayah kota dengan fungsi ekologis dan sosial.
“Jadi RTH itu seluruh hijauan yang ada di kota itu. Tapi yang terpenting bagaimana ruang tersebut bisa dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.
Saat ini terdapat 64 lokasi RTH publik di Kota Yogyakarta. Pada 2026, dua lokasi baru di Prenggan dan Tegalgendu mulai ditata dengan pendekatan lanskap yang memungkinkan pemanfaatan lebih luas untuk kegiatan warga dan edukasi.
Tegalgendu dan Konsep Integrated Farming
RTH Tegalgendu dirancang dengan konsep integrated farming. Di dalamnya akan terdapat area pertanian kota yang memanfaatkan pupuk organik hasil olahan masyarakat.
“Nanti ada pertanian, dan pupuknya dari hasil olahan organik di situ. Sekalian untuk edukasi juga, jadi masyarakat bisa belajar bagaimana pertanian di kota itu,” jelas Rina.
Konsep ini membuka ruang belajar sekaligus peluang ekonomi. RTH tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga laboratorium hidup untuk praktik pertanian perkotaan dan pengelolaan pupuk organik.
Selain itu, RTH tetap difungsikan sebagai ruang bermain anak dan tempat interaksi sosial.
“Biar anak-anak bisa tumbuh kembang dengan sehat. Kalau di rumahnya sempit, mereka bisa berlarian di RTH dengan udara yang lebih segar,” katanya.
Menuju Target 30 Persen
Secara ekologis, vegetasi di RTH berperan menyerap cemaran udara, menghasilkan oksigen, serta meningkatkan daya resap air hujan di kawasan padat.
Proporsi RTH Kota Yogyakarta saat ini tercatat 23,351 persen, terdiri dari 8,063 persen RTH publik dan 15,288 persen RTH privat. Untuk mendekati target ideal 30 persen, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci.
“Semua harus jalan. Kalau tidak kolaborasi, sangat sulit untuk mencapai 30 persen itu,” tambah Rina.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan RTH publik harus memiliki fungsi terintegrasi.
“RTH publik harus punya fungsi lingkungan, sosial, dan juga ekonomi. Anak-anak mendapatkan haknya untuk bermain, warga punya tempat rekreasi dan bertemu, UMKM bisa ada ruang, dan bisa dimanfaatkan untuk Unit Pupuk Organik (UPO),” tegasnya.
Jogja dan Masa Depan Ruang Hidup
Arah pengembangan RTH di Kota Yogyakarta menunjukkan satu hal: ruang hijau adalah investasi masa depan. Bukan hanya untuk keindahan kota, tetapi untuk kesehatan, interaksi sosial, hingga ketahanan lingkungan.
Di kota yang terus bertumbuh, RTH menjadi penyeimbang. Tempat warga menghirup udara segar, belajar merawat bumi, dan membangun jejaring ekonomi dari kampung sendiri.
Jogja tidak sekadar menambah taman. Jogja sedang menata ruang hidupnya agar tetap manusiawi, produktif, dan berkelanjutan.(Oi)
Sumber: Dok Warta.jogjakota.go.id














