Bantul. VoiceJogja.com – Malam di Sendang Kasihan terasa lebih hening dari biasanya. Di tengah gemerlap kota yang terus bergerak cepat, sekelompok warga duduk melingkar, memusatkan batin dalam ritual Sareng Melukat yang digelar Komunitas Anggoro Kasih, Selasa malam (17/2).
Bagi sebagian peserta, ritual Ruwahan ini bukan sekadar agenda selapanan. Ia menjadi ruang jeda untuk menimbang ulang arah hidup dan jati diri, di saat modernitas kerap membuat manusia tercerabut dari akar budayanya.

Oase Spiritualis di Tengah Modernitas
Kegiatan dipandegani oleh Ki Gede Mahesa, Ki Hand Wiratirta, dan Nyai Bardal Dresanala. Peserta datang dari latar sosial berbeda, namun melebur dalam satu laku budaya.
Ritual berlangsung khidmat. Sendang Kasihan menjadi ruang refleksi kolektif, tempat nilai-nilai tradisi Jawa dihidupkan kembali melalui Sareng Melukat.
Bagi Komunitas Anggoro Kasih, pertemuan ini merupakan respons atas apa yang mereka maknai sebagai krisis identitas bangsa.

Refleksi Candik Ala dan Siklus Trikali
Ritual kali ini menjadi kelanjutan dari kajian Candik Ala-Candi Kala. Pergantian cahaya menuju malam dimaknai sebagai gambaran kondisi jagad yang mulai dikuasai angkara murka.
Supriyadi mengingatkan pada nubuat Jangka Jayabaya. Dunia diyakini berada di akhir siklus pertama Tri-kali (2100), meliputi Kali Swara, Kali Sangara, dan Kaliyoga.
“Tahun 2026 adalah ambang pintu. Apakah kita akan hancur tergilas angkara, atau mampu menjemput cahaya esok pagi? Itu adalah pilihan yang ditentukan oleh kemampuan kita mengenali akar jati diri,” ujar Supriyadi di sela acara.
Menundukan Sifat Diyu
Inti Sareng Melukat adalah upaya menundukkan nafsu angkara yang disimbolkan sebagai Diyu atau raksasa. Peserta diajak meruwat tiga sifat destruktif dalam diri manusia.
Nafsu Amarah disimbolkan oleh Dasamuka, Nafsu Lawwamah oleh Kumbakarna, dan Nafsu Supiyah oleh Sarpa Kenaka. Ketiganya dimaknai sebagai dorongan yang harus dikendalikan agar manusia kembali pada keseimbangan.
Momentum bulan Ruwah dipandang sebagai persiapan menyambut puasa. Puasa dianggap sebagai laku spiritual untuk menundukkan sifat-sifat tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Menuju Ksatria Gunawan Wibisana
Melalui laku ini, manusia diharapkan kembali pada fitrah yang disimbolkan sosok Ksatria Gunawan Wibisana, figur kebijaksanaan dan kebaikan.
Di Yogyakarta, ruang-ruang seperti ini memperlihatkan bahwa tradisi bukan sekadar romantisme masa lalu. Ia menjadi cara warga merespons kegelisahan zaman dengan pendekatan budaya.
Ritual Sareng Melukat di Sendang Kasihan menegaskan satu hal: Jogja tetap memiliki komunitas yang merawat nilai, memaknai waktu, dan menjaga keseimbangan batin. Di tengah perubahan, kesadaran diri menjadi cahaya yang terus dicari.(Oi)














