Scroll untuk baca artikel
DaerahBudayaFavorite

Reog Trirenggo Hidupkan Semangat Desa Budaya Bantul

×

Reog Trirenggo Hidupkan Semangat Desa Budaya Bantul

Sebarkan artikel ini

Dari lapangan desa, kebudayaan tumbuh bersama guyub warga

Pementasan reog di Trirenggo Bantul hidupkan semangat desa budaya dan guyub rukun warga. foto: Dok Bantulkab.go.id

Bantul, Voicejogja.com – Rintik hujan turun perlahan di Lapangan Trirenggo, Bantul, namun warga tetap bertahan di tempatnya. Irama gamelan dan gerak tegas penari reog justru terasa semakin hangat, seolah menjadi penegas bahwa budaya tidak mudah surut oleh cuaca.

Di tengah upaya merawat identitas lokal, pementasan ini menjadi ruang bersama yang mengikat ingatan, harapan, sekaligus masa depan desa.

Reog Sebagai Nafas Desa

Pementasan Reog Satria Naga Budaya digelar di Kalurahan Trirenggo sebagai bagian dari upaya melestarikan kebudayaan lokal sekaligus menguatkan statusnya sebagai rintisan desa budaya.

Warga datang bukan sekadar menonton, tetapi ikut merasakan denyut yang sama, bahwa kesenian adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya pertunjukan sesaat.

Lurah Trirenggo, Ernawati Kusumaningsih, menyampaikan harapannya agar kegiatan semacam ini terus berlanjut.

“Selamat menyaksikan pementasan reog pada malam hari ini. Saya berharap kegiatan ini menjadi agenda tahunan untuk mendukung Kalurahan Trirenggo sebagai salah satu rintisan desa budaya,” ujarnya.

Guyub Rukun sebagai Kekuatan Sosial

Apresiasi juga datang dari Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, yang melihat kegiatan ini sebagai wujud nyata pelestarian budaya berbasis masyarakat.

Ia menyoroti peran warga, terutama dari Padukuhan Nogosari, yang menjaga tradisi tetap hidup melalui keterlibatan langsung.

Di Kalurahan Trirenggo sendiri, terdapat sekitar 30 kelompok seni yang aktif berkegiatan. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi cerminan ekosistem budaya yang terus bergerak.

“Masyarakat Kalurahan Trirenggo ini sangat kental dengan budaya guyub rukun dan gotong royong,” ungkapnya.

Budaya sebagai Jalan Masa Depan

Di Yogyakarta, desa budaya bukan hanya konsep administratif, tetapi jalan panjang menjaga warisan sekaligus membuka peluang baru, dari pendidikan, pariwisata, hingga ekonomi kreatif.

Pementasan reog di Trirenggo memperlihatkan bagaimana budaya bisa menjadi titik temu antar generasi. Anak-anak melihat, belajar, lalu perlahan menjadi bagian dari tradisi itu sendiri.

Ketika ruang-ruang seperti ini terus dijaga, kebudayaan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan akarnya.

Dari Trirenggo untuk Bantul

Apa yang tumbuh di Trirenggo adalah gambaran kecil dari wajah Yogyakarta yang lebih luas, daerah yang berdiri di atas kekuatan komunitas dan kesadaran kolektif.

Di tengah perubahan yang cepat, budaya menjadi jangkar yang menjaga arah. Reog yang ditampilkan malam itu bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi penanda bahwa Jogja terus merawat dirinya, dari desa-desa yang hidup dan saling menguatkan.(Oi)

Sumber: Bantulkab.go.id