Gunungkidul, Voicejogja.com – Di beberapa sudut Gunungkidul, rumah bukan sekadar tempat berteduh, tetapi juga cermin perjuangan hidup yang tak selalu mudah. Lantai tanah, dinding rapuh, dan ruang sempit menjadi keseharian yang perlahan ingin diubah.
Program rehab RTLH di Gunungkidul menghadirkan harapan sederhana: rumah yang lebih layak, sehat, dan memberi ruang hidup yang lebih manusiawi bagi warganya.

Menyapa Realitas di Balik Dinding Rumah
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, turun langsung meninjau sejumlah rumah tidak layak huni bersama BAZNAS, panewu, lurah, serta unsur TNI dan Polri.
Langkah ini bukan sekadar pendataan, tetapi upaya merumuskan bantuan yang benar-benar menjawab kebutuhan warga.
Di Kelurahan Selang, perhatian tertuju pada Sukiran yang hidup seorang diri di rumah berlantaikan tanah. Sehari-hari, ia bertahan dari mengumpulkan rongsokan.
“Setelah mendengar informasi tadi, diketahui Pak Sukiran telah berpisah dengan istri dan putrinya selama 15 tahun, dan di masa tuanya, dukungan keluarga sangat dibutuhkan agar tidak hidup terlunta-lunta sendirian,” ujar Bupati.
Perbaikan Rumah, Menjaga Martabat Hidup
Peninjauan berlanjut ke Dusun Singkar, Kelurahan Wareng. Parno dan istrinya tinggal di rumah berdinding bambu berlubang dengan atap yang mulai rapuh.
Melalui skema bantuan BAZNAS, perbaikan difokuskan pada ruang inti rumah dengan dinding yang lebih kokoh dan tambahan ventilasi.
Langkah ini tidak hanya memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga menjaga martabat hidup warga yang selama ini bertahan dalam keterbatasan.
Rumah Sehat untuk Masa Depan Anak
Di Kelurahan Pulutan, perhatian tertuju pada Monika Dewi Sartika yang membesarkan empat anaknya seorang diri.
Kondisi rumah dengan sirkulasi udara yang buruk dinilai belum mendukung kesehatan dan proses belajar anak-anaknya.
“Pemerintah bersama BAZNAS akan segera merancang desain rumah yang memiliki kamar-kamar representatif agar anak-anak Ibu Monika dapat belajar dengan lebih baik demi masa depan mereka,” kata Bupati.
Bagi keluarga seperti ini, rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi fondasi masa depan.
Gotong Royong Jadi Kunci Perubahan
Program rehab RTLH di Gunungkidul tidak berdiri sendiri. Dukungan zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun melalui BAZNAS menjadi penggerak utama.
“Jika kita membantu membangunkan rumah sendiri mungkin tidak mampu, namun dengan dana yang dihimpun di BAZNAS, kita dapat secara gotong royong mewujudkan rumah layak huni bagi saudara-saudara kita yang belum beruntung,” ujarnya.
Semangat gotong royong ini menjadi kekuatan khas Jogja dalam menjawab persoalan sosial secara bersama.
Gunungkidul dan Hak Dasar atas Hunian Layak
Bagi Jogja, rumah layak huni adalah bagian dari hak dasar warga yang tidak bisa diabaikan.
Program rehab RTLH menjadi langkah nyata menjaga agar tidak ada warga yang hidup tanpa ruang yang sehat dan aman.
Dari rumah-rumah sederhana di Gunungkidul, arah masa depan itu disusun, pelan, tetapi dengan kepedulian yang terus dijaga.(Oi)
Sumber: Gunungkidulkab.go.id














