Scroll untuk baca artikel
Berita UnggulanBudayaFavoriteNasionalPemerintah

Refleksi Kepemimpinan Jawa untuk Masa Depan Jogja

×

Refleksi Kepemimpinan Jawa untuk Masa Depan Jogja

Sebarkan artikel ini

Di tengah krisis keteladanan, Jogja diingatkan pada akar kebijaksanaannya sendiri

Refleksi kepemimpinan Jawa dari Panembahan Senapati hingga Sultan Agung, relevansinya bagi masa depan Jogja dan krisis keteladanan. Foto: Ilustrasi/Supriyadi

Yogyakarta, VoiceJogja.com – Di tengah riuh statistik pertumbuhan dan transformasi digital, ada kegelisahan yang tak mudah diukur angka: krisis keteladanan. Jabatan boleh banyak, struktur boleh rapi, tetapi warga kerap merindukan sosok pemimpin yang menghadirkan rasa aman dan keteladanan.

Refleksi kepemimpinan menjadi penting bagi Yogyakarta, kota budaya yang sejak lama berdiri di atas nilai budi dan harmoni. Bagi Jogja, kepemimpinan bukan sekadar soal target, melainkan soal arah dan jiwa.

Foto: Pamomong Jagad TriBhawana yang digambarkan Manikmaya, Ismaya, Tejamaya (Dok Supriyadi)

Barat dan Timur: Dua Cara Memaknai Kuasa

Dalam perspektif modern Barat, kepemimpinan sering dipahami sebagai seni memengaruhi orang lain demi mencapai tujuan bersama. Ia berkembang dalam kerangka manajemen, efisiensi, dan kontrol.

Model ini menekankan power dan control, bahkan melahirkan pemujaan terhadap figur karismatik yang berorientasi hasil. Kepemimpinan menjadi teknokratis dan sangat struktural.

Berbeda dengan cakrawala manusia Jawa. Dalam tradisi ini, kepemimpinan bukan hanya jabatan organisatoris, melainkan laku spiritual. Seorang pemimpin adalah pamong, pengasuh yang menggerakkan dari dalam melalui rasa dan karsa.

Orientasinya bukan dominasi, melainkan harmoni. Menang tanpa ngasorake menjadi prinsip: menaklukkan tanpa merendahkan.

Jejak Panembahan Senopati dan Amanat Cakrawartin

Membicarakan kepemimpinan Jawa tak lengkap tanpa menyebut Panembahan Senapati. Ia bukan sekadar pendiri trah Mataram, tetapi arketipe pemimpin yang merintis kejayaan melalui laku prihatin.

Legitimasi, dalam ajaran ini, tidak datang dari kertas keputusan, melainkan dari kedekatan spiritual dengan alam dan rakyat.

Foto: Dok Supriyadi

Penguasa Jawa mengemban amanat sebagai Cakrawartin: memutar roda dunia agar tetap seimbang. Tanggung jawab itu mencakup Bumi Pati (menjaga kedaulatan dan kemakmuran) serta Prajapati (menjaga keselamatan jiwa dan moralitas masyarakat.)

Seorang pemimpin dipandang sebagai “manusia kesemestaan”, mikrokosmos yang harus selaras dengan makrokosmos. Ketidakstabilan batin diyakini berdampak pada kekacauan sosial.

Arsitektur Mataram dan Teladan Sultan Agung

Pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo, visi spiritual diterjemahkan ke dalam struktur pemerintahan yang sistematis. Tatanan berlapis dari Sultan hingga Lurah memastikan nilai kepemimpinan mengalir dari pusat ke desa.

Sultan berperan sebagai poros spiritual sekaligus pemegang otoritas tertinggi yang dibatasi hukum alam dan agama. Pepatih Dalem menjadi jembatan visi dan birokrasi.

Di tingkat bawah, Lurah dipilih komunitasnya sendiri. Di sinilah oase demokrasi hidup dalam monarki, menguji makna “melayani dan menghamba” secara nyata.

Struktur ini menegaskan bahwa efektivitas organisasi tidak hanya bergantung pada bagan, tetapi pada integritas di setiap jenjang.

Kelapa, Pangkon, dan Hasta Brata

Dalam simbolisme Jawa, pohon kelapa menjadi metafora kepemimpinan. Tumbuh lurus ke langit, tetapi seluruh bagiannya bermanfaat bagi sesama. Akar menghujam bumi, batang kokoh namun lentur, buah memberi kesegaran tanpa membedakan.

Kepemimpinan juga diingatkan melalui filosofi pangkon dalam aksara Jawa. “Wong Jawa dipangku mati” menjadi peringatan bahwa jabatan dan sanjungan bisa mematikan daya kritis.

Foto: Dok Supriyadi

Karena itu, gelar seperti Mangku Bumi atau Mangku Negara bukan simbol kepemilikan, melainkan tanggung jawab memangku (memeluk dan melindungi) dengan mematikan ego pribadi.

Ajaran Hastha Brata merangkum delapan laku alam: matahari memberi energi, bulan memberi ketenangan, bintang menjadi pedoman, angin turun ke bawah, langit berwawasan luas, samudra berhati lapang, api tegas pada ketidakadilan, dan bumi menjadi landasan kemakmuran.

Jogja dan Tanggung Jawab Kepemimpinan

Bagi Yogyakarta, refleksi kepemimpinan Jawa bukan nostalgia romantik. Ia adalah kompas moral di tengah zaman yang serba cepat dan sering kehilangan kedalaman.

Kota ini dibangun dari keseimbangan antara budaya, pendidikan, dan spiritualitas. Karena itu, pemimpin di Jogja dituntut tidak hanya cakap secara administratif, tetapi juga matang secara batin.

Di ambang ketidakpastian global, kecanggihan teknologi saja tidak cukup. Jogja membutuhkan kembali manusia kesemestaan, pemimpin yang tegas seperti ksatria, namun lembut seperti pamong.

Pada akhirnya, jabatan hanyalah sampiran. Yang abadi adalah budi yang ditanam di tanah pertiwi. Dan di situlah masa depan kepemimpinan Jogja dipertaruhkan.(Oi/Supriyadi)