Gunungkidul, Voicejogja.com – Deretan gunungan, iring-iringan karnaval, dan wajah-wajah warga yang penuh suka cita menyatu di Banaran. Rasulan bukan sekadar perayaan, melainkan cara masyarakat merawat hubungan dengan alam, sesama, dan masa depan mereka.
Di tengah perubahan zaman, tradisi Rasulan Banaran 2026 kembali mengingatkan bahwa kekuatan desa lahir dari syukur dan kebersamaan yang dijaga turun-temurun.
Tradisi yang Terus Mengakar
Rasulan di Kalurahan Banaran, Kapanewon Playen, kembali digelar dengan meriah. Karnaval budaya menjadi salah satu penanda kuat bagaimana tradisi ini hidup dan terus berkembang di tengah masyarakat.
Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, hadir langsung menyambut peserta karnaval di Balai Kalurahan Banaran.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Rasulan telah menjadi ciri khas masyarakat setempat, bukan hanya sebagai agenda budaya, tetapi juga sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Syukur yang Menyatu dengan Kehidupan
Bagi warga Banaran, Rasulan tidak berdiri sendiri. Ia terhubung erat dengan kehidupan sehari-hari, terutama dengan alam dan hasil pertanian yang menjadi penopang utama.
Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kehidupan tidak lepas dari berkah alam dan pentingnya menjaga kerukunan antarwarga.
Nilai tersebut terasa semakin kuat, terutama ketika masyarakat berkumpul, berbagi, dan merayakan bersama dalam suasana yang hangat.
Budaya, Gotong Royong, dan Identitas desa
Banaran menunjukkan bahwa kekuatan desa tidak hanya terletak pada sumber daya, tetapi juga pada kebersamaan yang terus dirawat.
Gotong royong, kearifan lokal, dan partisipasi warga tampak dalam seluruh rangkaian kegiatan, termasuk pagelaran wayang kulit yang menjadi bagian dari pelestarian tradisi.
“Melalui gelar budaya ini, terlihat bahwa masyarakat Banaran mampu melestarikan budaya dengan penuh cinta, tanggung jawab, dan kebahagiaan,” ujar Joko Parwoto.

Momentum Silaturahmi Pasca Lebaran
Suasana Rasulan tahun ini juga terasa selaras dengan momentum Idulfitri yang masih hangat dirasakan masyarakat.
Nilai saling memaafkan dan mempererat silaturahmi menjadi bagian yang tidak terpisahkan, memperkuat makna Rasulan sebagai ruang sosial yang menyatukan warga.
Perpaduan antara nilai spiritual, budaya, dan kebersamaan menjadikan tradisi ini tetap relevan di tengah kehidupan modern.
Arah Desa Berbasis Budaya
Dukungan terhadap kalurahan seperti Banaran terus ditekankan agar mampu berkembang menjadi desa mandiri, berbudaya, dan berdaya saing.
Dengan kekuatan budaya dan solidaritas yang dimiliki, Banaran dinilai memiliki potensi menjadi contoh pengembangan desa berbasis budaya dan pemberdayaan masyarakat.
Apresiasi juga disampaikan kepada para sesepuh, warga, dan panitia yang menjaga keberlangsungan tradisi ini dengan tertib dan penuh makna.
Menjaga Harmoni yang Hidup
Di Banaran, Rasulan bukan hanya perayaan tahunan. Ia adalah cara warga menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan nilai-nilai yang diwariskan.
Dari karnaval hingga doa bersama, dari tawa hingga harapan, semua mengalir menjadi satu, menguatkan keyakinan bahwa kebersamaan adalah fondasi yang menjaga kehidupan tetap utuh(Oi)
Sumber: Gunungkidulkab.go.id














