Yogyakarta, Voicejogja.com – Suasana Ramadan di Yogyakarta menjadi pengalaman yang berbeda bagi Rahmatsho Rahmatzoda. Jauh dari keluarganya di Tajikistan, pemain PSIM Yogyakarta itu menjalani bulan puasa dengan cerita baru bersama masyarakat Jogja.
Meski rasa rindu pada keluarga tidak bisa dihindari, Rahmatsho mengaku justru menemukan kenyamanan menjalani Ramadan di Indonesia. Lingkungan yang ramah membuatnya lebih mudah beradaptasi, bahkan saat harus tetap menjalani latihan sepak bola.
Ramadan Jauh dari Kampung Halaman
Rahmatsho Rahmatzoda menjadi salah satu pemain muslim di skuad PSIM Yogyakarta pada kompetisi BRI Super League 2025-2026. Bagi pemain kelahiran 6 April 2004 itu, Ramadan tahun ini terasa berbeda karena ia menjalaninya tanpa kehadiran keluarga.
Ia mengaku biasanya menghabiskan bulan puasa bersama keluarga dan teman di kampung halamannya di Tajikistan.
“Tidak ada persiapan khusus untuk Ramadan kali ini, hanya saja biasanya ada banyak keluarga dan teman. Bisa menghabiskan bulan seperti ini bersama keluarga adalah hal sangat luar biasa,” kata Rahmatsho.
Kerinduan itu tetap terasa, tetapi ia berusaha menjalani bulan puasa dengan penuh syukur.
“Saya sangat jatuh cinta dengan negara ini. Saya menyukai semuanya, dan saya ingin tinggal di sini untuk waktu sangat lama. Menurut saya esensi bulan suci Ramadan di mana saja tetaplah sama,” ujarnya.
Komitmen Profesional di Tengah Puasa
Sebagai pemain sepak bola profesional, Rahmatsho tetap menjalani jadwal latihan bersama PSIM Yogyakarta selama Ramadan.
Ia menyebut ibadah puasa tidak mengganggu ritme latihan maupun aktivitasnya di lapangan.
“Tentu terasa sulit karena keluarga saya berada sangat jauh. Saya sebenarnya sangat ingin menghabiskan hari-hari seperti ini bersama keluarga. Namun, sepak bola adalah bagian dari hidup saya. Saya harus rela berkorban demi sepak bola,” ungkapnya.
Menariknya, ia justru merasa mendapatkan energi tambahan selama menjalani puasa.
“Sama sekali tidak sulit, sebaliknya di bulan ini saya justru mendapatkan lebih banyak energi dan kekuatan. Ramadan sangat penting bagi saya,” kata pemain bernomor punggung 63 tersebut.
Menemukan Rasa Rumah di Jogja
Rahmatsho juga tidak mengalami kesulitan beradaptasi dengan makanan saat sahur maupun berbuka puasa di Yogyakarta.
Menurutnya, cita rasa makanan di Jogja tidak terlalu berbeda dengan hidangan di kampung halamannya.
“Sama sekali tidak memberatkan. Saya makan di pagi hari saat sahur dan kemudian saat berbuka puasa. Bisa dibilang pada masa-masa seperti ini, saya justru memiliki lebih banyak kekuatan dan energi,” ujarnya.
Cerita Rahmatsho menjadi gambaran kecil bagaimana Yogyakarta tidak hanya menjadi rumah bagi warga lokal, tetapi juga ruang yang ramah bagi siapa pun yang datang dari berbagai penjuru dunia.
Di tengah kompetisi sepak bola yang terus berjalan, Ramadan di Jogja memberi makna baru bagi pemain muda itu: tentang komitmen, pengorbanan, dan kehangatan yang melampaui jarak keluarga.(Oi)
Sumber: Ileague.id














