Scroll untuk baca artikel
DaerahBudayaFavorite

Rahasia Ustaz Kampung Jogja Bikin Warga Hidup Rukun

×

Rahasia Ustaz Kampung Jogja Bikin Warga Hidup Rukun

Sebarkan artikel ini

Dari ruang sederhana, pesan harmoni terus dirawat untuk masa depan

Mengenal sosok Pak Ndaru, 'Ustaz Kampung' yang dedikasikan hidup untuk harmoni di Yogyakarta lewat FKUB dan MUI DIY. Simak filosofi ayam kampung versinya."
Mengenal sosok Pak Ndaru, 'Ustaz Kampung' yang dedikasikan hidup untuk harmoni di Yogyakarta lewat FKUB dan MUI DIY. Simak filosofi ayam kampung versinya." foto: Istimewa

Yogyakarta, Voicejogja.com Di tengah kehidupan kota yang semakin beragam, menjaga kerukunan bukan lagi sekadar wacana. Seorang “ustaz kampung” di Yogyakarta memilih merawatnya dari ruang-ruang sederhana yang dekat dengan warga.

Bagi banyak keluarga di Jogja, rasa aman dan damai antarumat beragama bukan sesuatu yang datang begitu saja, melainkan hasil dari upaya panjang yang terus dijaga bersama.

Menjaga Harmoni dari Akar

Di sela aktivitasnya, Pak Ndaru, 62 tahun, tetap aktif mengabdikan diri dalam Forum Kerukunan Umat Beragama Yogyakarta dan Majelis Ulama Indonesia DIY.

Di MUI, ia tergabung dalam Komisi Ukhuwah dan Kerukunan yang mengemban dua peran sekaligus—menguatkan persaudaraan internal umat Islam sekaligus membangun hubungan harmonis dengan umat agama lain.

“Ukhuwah itu untuk internal, sementara kerukunan untuk eksternal antarumat beragama,” ujarnya.

Visi Jogja yang Damai

Melalui kiprahnya di FKUB, Pak Ndaru memandang Yogyakarta sebagai ruang hidup bersama yang harus dijaga keseimbangannya.

Ia menekankan bahwa tujuan kerukunan bukan sekadar toleransi, tetapi menciptakan rasa nyaman, aman, dan saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari.

“Intinya bagaimana kita hidup nyaman, aman, dan harmonis sesama semua umat beragama,” ungkapnya.

Nilai ini terasa dekat dengan wajah Jogja yang dikenal sebagai kota budaya dan ruang perjumpaan berbagai latar belakang.

Filosofi “Ustaz Kampung”

Julukan “ustaz kampung” justru menjadi identitas yang ia pegang teguh.

Latar belakangnya memang tidak biasa. Ia pernah menempuh pendidikan teknik perminyakan di UPN Veteran Yogyakarta serta ekonomi di STIE Widya Wiwaha. Namun, garis keturunan ulama dan pengalaman dakwah membawanya kembali ke pengabdian sosial keagamaan.

Baginya, istilah “kampung” bukan tentang keterbatasan, melainkan kekuatan.

Ia mengibaratkan seperti ayam kampung, lebih tahan banting, bernilai, dan memberi rasa yang lebih kuat.

Tiga Pilar Persaudaraan

Dalam kesehariannya, Pak Ndaru berpegang pada prinsip bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.

Ia menekankan pentingnya tiga konsep persaudaraan: ukhuwah Islamiyah, ukhuwah watoniyah, dan ukhuwah basyariyah.

Di FKUB, fokus utamanya ada pada persaudaraan kebangsaan dan kemanusiaan, agar masyarakat dapat hidup berdampingan tanpa sekat.

Pendekatan ini menjadi penting di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.

Relevansi bagi Masa Depan Jogja

Bagi Yogyakarta, menjaga kerukunan bukan hanya soal hari ini, tetapi juga investasi sosial jangka panjang.

Ketika ruang-ruang dialog tetap hidup dan nilai saling menghormati terus ditanamkan, kota ini tidak hanya dikenal sebagai pusat budaya, tetapi juga sebagai rumah yang aman bagi semua.

Peran figur seperti Pak Ndaru menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali tumbuh dari langkah-langkah sederhana di tingkat komunitas.

Penutup
Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, suara dari “kampung” justru mengingatkan pada hal paling mendasar, bahwa hidup berdampingan dengan damai adalah fondasi yang tak boleh hilang. Jogja merawatnya, pelan tapi pasti.(Oi)