Scroll untuk baca artikel
PendidikanFavorite

Prestasi Santri Menguat, Wajah Pesantren Makin Luas

×

Prestasi Santri Menguat, Wajah Pesantren Makin Luas

Sebarkan artikel ini

Dari kitab hingga inovasi, santri menembus batas zaman.

Prestasi santri pesantren kian meluas dari agama hingga inovasi global, menguatkan peran pendidikan pesantren di Indonesia.
Prestasi santri pesantren kian meluas dari agama hingga inovasi global, menguatkan peran pendidikan pesantren di Indonesia. foto: Dok Kemenag

Jakarta, Voicejogja.com – Di tengah perubahan zaman, wajah pesantren terus bergerak. Dari ruang-ruang belajar yang sederhana, lahir santri dengan capaian yang menjangkau panggung nasional hingga internasional.

Prestasi santri kini tidak lagi terbatas pada bidang keagamaan. Di berbagai ajang, mereka hadir sebagai peneliti, inovator, hingga penggerak sosial, membawa pesan bahwa pendidikan pesantren tetap relevan untuk masa depan.

Dari Tafaqquh Fiddin ke Inovasi Global

Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, menyebut potret pesantren saat ini semakin beragam. Santri tidak hanya dikenal melalui penguasaan ilmu agama, tetapi juga unggul dalam bidang akademik dan non-akademik.

“Potret pesantren kini tidak hanya tentang tafaqquh fid-din, tapi juga beragam keunggulan dalam prestasi akademik dan non akademik,” ujarnya.

Menurutnya, ruang pengabdian lulusan pesantren semakin luas. Mereka berkiprah sebagai ulama, penyuluh agama, hingga merambah profesi dokter, peneliti, perbankan, hingga pelaku usaha di berbagai sektor.

Perkembangan ini tidak lepas dari kemampuan pesantren beradaptasi dengan zaman, termasuk dukungan pendampingan dari Kementerian Agama.

Kiprah Santri di Berbagai Bidang

Sejumlah nama menunjukkan wajah baru santri Indonesia. Nabila Saphira, misalnya, mengembangkan prototype turbin air yang mengantarkannya mewakili Indonesia dalam program AFS Global STEM Academies di Brasil.

Tsuroyyah Hamidah menapaki jalur pemberdayaan masyarakat pesisir melalui sektor pendidikan dan perikanan, hingga masuk dalam Top 7 Wirausaha Muda Berprestasi Nasional Bidang Religius.

M. Mifta Yoga Fahreza menciptakan aplikasi edukatif dan aktif dalam isu anak serta iklim, sementara Ahmad Faqieh Shakier menggabungkan hafalan Al-Qur’an dengan prestasi sains dan pengabdian masyarakat di daerah pegunungan.

Di bidang inovasi kesehatan, Muhammad Aidil Fitrah Lubis mengembangkan produk herbal antibakteri dan meraih penghargaan internasional. Khoirul Adib bahkan mencatatkan prestasi di berbagai ajang dunia, termasuk penghargaan inovasi dan beasiswa ke Rochester Institute of Technology.

Revan Kurnia Aditya menghadirkan inovasi layanan kesehatan melalui SANTRICARE, sementara Qotrotun Nadia dari Yogyakarta menunjukkan bahwa santri juga mampu bersinar di bidang literasi dan hadis.

Fitria Raudhatul Jannah melengkapi deretan ini dengan capaian di ajang Musabaqah Qira’atil Kutub tingkat nasional dan internasional.

Pesantren dan Masa Depan Pendidikan

Ragam prestasi ini memperlihatkan bahwa pesantren bukan hanya ruang belajar tradisional, tetapi juga ekosistem yang terus tumbuh mengikuti kebutuhan zaman.

Bagi Yogyakarta (yang menjadi rumah bagi banyak pesantren) perkembangan ini menjadi energi penting dalam membangun generasi yang berakar pada nilai, namun tetap adaptif terhadap perubahan.

Pesantren tidak lagi berdiri di satu jalur, melainkan membuka banyak jalan pengabdian bagi santri. Dari ilmu agama hingga teknologi, dari literasi hingga kewirausahaan.

Jogja dan Harapan yang Terawat

Di balik capaian para santri, ada harapan yang terus dirawat: bahwa pendidikan berbasis nilai tetap bisa berjalan seiring dengan kemajuan dunia.

Jogja, dengan tradisi pendidikannya, menjadi bagian dari perjalanan ini, menguatkan peran pesantren sebagai ruang tumbuh yang tidak hanya mencetak pengetahuan, tetapi juga membentuk arah masa depan.(Oi)

Sumber: Kementerian Agama