Kulon Progo, VoiceJogja.com – Di pesisir selatan Kulon Progo, lahan pasir yang dulu kerap dipandang terbatas kini menunjukkan wajah baru. Melalui Greenhouse FASTAN di Kalurahan Bugel, pertanian cerdas berbasis teknologi tepat guna membuktikan bahwa inovasi bisa tumbuh dekat dengan petani, memberi nilai tambah, dan membuka masa depan pangan yang lebih berkelanjutan.
Transformasi pertanian di Kulon Progo perlahan bergerak dari wacana ke praktik nyata. Panen Raya Greenhouse FASTAN menjadi penanda penting dari ikhtiar tersebut, sebuah hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Kulon Progo dan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam proyek Fabrikasi Fasilitas Smart-Agri Tepat Guna Skala Petani (FASTAN). Kegiatan ini berpusat di Field Research Center (FRC) Sekolah Vokasi UGM dan greenhouse FASTAN di Kalurahan Bugel.
Bagi Pemkab Kulon Progo, FASTAN bukan sekadar proyek riset, melainkan gambaran masa depan pertanian lahan pasir yang adaptif dan berkelanjutan.
Melalui Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida), pemerintah daerah memastikan inovasi yang dikembangkan selaras dengan kebutuhan riil petani di lapangan, bukan berhenti di ruang akademik.
Panen raya ini dihadiri Bupati Kulon Progo Dr. H. R. Agung Setyawan, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi UGM Arief Setiawan Budi Nugroho, Ketua Senat UGM, Ketua Tim FASTAN FRC Kulon Progo dari Departemen Teknik Mesin Sekolah Vokasi UGM Dr. Eng. Yosephus Ardean Kurnianto Prayitno beserta tim peneliti, jajaran OPD terkait, Lurah Bugel, serta perwakilan Kelompok Tani Gisik Pranaji.
Dalam sambutannya, Bupati Agung Setyawan menyampaikan apresiasi atas dedikasi tim peneliti Sekolah Vokasi UGM yang menghadirkan teknologi pertanian modern bagi masyarakat pesisir Kulon Progo. Ia menegaskan bahwa riset ini diarahkan agar benar-benar berdaya guna bagi warga.

Sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, dan Kelompok Tani Gisik Pranaji dipandang sebagai pilar penting. Hasilnya bukan hanya panen, tetapi peluang lanjutan (mulai dari produk segar hingga olahan) yang menunggu disambut oleh sektor industri.
Agung juga menyoroti upaya Pemkab Kulon Progo dalam mendorong keterlibatan petani milenial pada pertanian modern. Produksi tidak lagi berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan pariwisata. Konsep wisata petik buah, seperti kebun melon di Bugel, terus dikembangkan.
Di wilayah lain, revitalisasi perkebunan kakao dan kopi di Perbukitan Menoreh digencarkan dengan target menjadikan Kulon Progo sebagai pusat produksi unggulan di Yogyakarta.
Wilayah selatan Kulon Progo diproyeksikan tumbuh melalui agrotourism yang membentang dari Temon hingga Galur, dengan pengembangan kelapa genjah entok dan kelapa kopyor sebagai komoditas andalan pesisir. Di titik ini, pertanian tidak hanya soal panen, tetapi juga pengalaman dan nilai ekonomi yang lebih luas.
Pentingnya riset juga ditekankan dalam pengelolaan hasil pertanian agar memiliki nilai tambah. FRC UGM diharapkan mampu memetakan potensi Kulon Progo sebagai mata rantai pariwisata agro di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Dengan keunggulan komparatif di sektor agro, optimisme tumbuh bahwa Kulon Progo dapat menjadi destinasi wisata berbasis pertanian yang kuat.
Dari sisi kampus, Wakil Rektor UGM Arief Setiawan Budi Nugroho menegaskan bahwa FASTAN adalah langkah UGM untuk bergerak melampaui pendekatan konvensional. Implementasi Internet of Things (IoT) dalam budidaya melon memungkinkan kualitas panen lebih terukur dan konsisten, terutama dalam pengelolaan tingkat kemanisan atau Brix.
Penggunaan IoT membantu petani menjaga keseimbangan kadar kemanisan agar sesuai standar pasar, sekaligus mencegah risiko buah pecah akibat pengelolaan yang kurang tepat. Teknologi ini menjadikan proses budidaya lebih presisi dan efisien.
Arief juga menyinggung posisi strategis Kulon Progo dengan hadirnya Yogyakarta International Airport (YIA). Bandara ini membuka peluang besar agar tamu yang datang ke Yogyakarta tidak sekadar melintas, tetapi juga tinggal dan berwisata.
Pertanian yang disinergikan dengan pariwisata dinilai mampu memperpanjang rantai manfaat ekonomi bagi warga lokal.
Konsep wisata petik buah di lokasi produksi kini digencarkan, didukung lingkungan yang bersih dan nyaman. Upaya promosi melalui keterlibatan influencer juga didorong untuk memperluas jangkauan produk lokal Kulon Progo secara positif.
Sementara itu, Ketua Tim FASTAN Yosephus Ardean Kurnianto Prayitno menjelaskan bahwa FASTAN dirancang untuk menjawab anggapan bahwa smart farming terlalu mahal bagi petani kecil. Teknologi yang dikembangkan mengedepankan prinsip keterjangkauan dan kemudahan operasional, termasuk sistem kendali otomatis untuk pengairan dan pemupukan.
Peralatan diproduksi secara lokal agar mudah dirawat, dan disertai pendampingan teknis berkelanjutan. Kolaborasi dengan Kelompok Tani Gisik Pranaji menjadi bukti bahwa teknologi cerdas dapat dikelola secara mandiri oleh petani.
Hal ini dirasakan langsung oleh Tri Erfin Ardiyanto, anggota Kelompok Tani Gisik Pranaji. Ia menyebut sistem otomatisasi nutrisi membuat petani lebih fokus pada perawatan tanaman dan meningkatkan efisiensi budidaya.
Kehadiran Pemkab Kulon Progo dalam panen raya juga dinilainya sebagai dukungan nyata sekaligus promosi bagi produk melon premium hidroponik.
Dari Bugel, FASTAN menunjukkan bahwa masa depan pertanian tidak harus jauh dan mahal. Dengan kolaborasi yang amanah dan berpihak pada petani, inovasi tumbuh dari lahan pasir, menguatkan pangan, membuka peluang wisata, dan menumbuhkan harapan baru bagi Kulon Progo.
Sumber: Kominfo Kulon Progo














