Kulon Progo, VoiceJogja.com – Di Padukuhan Kroco, Sendangsari, air tak sekadar mengalir, ia dirawat, disyukuri, dan dimaknai. Melalui Merti Padukuhan bertema Nggayuh Wahyu Tuk Pitu, ratusan warga berkumpul meneguhkan ikatan antara sumber kehidupan, tradisi, dan masa depan kebudayaan Kulon Progo.
Suasana Padukuhan Kroco pada Minggu pagi terasa khidmat sekaligus meriah. Ratusan warga tumpah ruah mengikuti Merti Padukuhan, tradisi tahunan yang digelar setiap bulan Ruwah. Tema Nggayuh Wahyu Tuk Pitu menjadi napas utama perayaan, sebuah ikhtiar bersama untuk merawat tujuh mata air yang selama ini menghidupi dusun, sekaligus meneguhkan keistimewaan Yogyakarta melalui kebudayaan yang hidup.
Prosesi dimulai dari pengambilan air suci di tujuh mata air yang tersebar di wilayah Kroco. Air tersebut kemudian diarak mengelilingi dusun bersama gunungan hasil bumi, menandai rasa syukur atas berkah alam yang terus mengalir. Tujuh kendi berisi air dari masing-masing mata air lalu diserahkan kepada tokoh masyarakat untuk disatukan dalam satu wadah utama.
Dalam prosesi penyatuan itu, Asisten Daerah I Setda Kulon Progo, Jazil Ambar Was’an, yang hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, turut menuangkan air. Hadir pula perwakilan DPRD Kulon Progo, Panewu Pengasih beserta jajaran Forkompimcam, Kundha Kabudayan Kulon Progo, serta para tokoh masyarakat setempat—sebuah penanda bahwa tradisi ini dijaga bersama lintas generasi dan peran.
Jazil mengapresiasi kemeriahan dan kesungguhan warga Kroco. Ia memaknai Nggayuh Wahyu Tuk Pitu sebagai cita-cita yang mesti diiringi usaha nyata. Menurutnya, kesejahteraan tidak hadir dari angan-angan semata, melainkan dari ikhtiar kolektif yang konsisten.
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga sumber daya alam, khususnya air. Tujuh mata air di Kroco dikenal tak pernah kering, sebuah anugerah yang sekaligus amanah. Air, katanya, adalah sumber kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup lain; karenanya, rasa syukur harus diwujudkan dengan perlindungan yang berkelanjutan.
Lebih jauh, Jazil menyebut Merti Padukuhan sebagai benteng keistimewaan DIY. Dengan status Sendangsari sebagai Desa Mandiri Budaya, kemandirian dalam merawat tradisi menjadi tanggung jawab bersama. Penampilan tari dan prosesi adat bukan sekadar tontonan, melainkan pernyataan jati diri, bahwa budaya adalah ruh keistimewaan yang harus terus ditegakkan.
Dari sisi warga, Dukuh Kroco Slamet Supriyono menjelaskan bahwa Merti Padukuhan merupakan agenda rutin yang dirawat turun-temurun. Rangkaian kegiatannya meliputi kerja bakti lingkungan, pembersihan mata air di setiap RT, ziarah makam, hingga doa bersama dan arak-arakan Tuk Pitu sebagai puncak perayaan.
Setiap mata air dibersihkan secara berkala agar lingkungan tetap terjaga dan kualitas air semakin baik. Bagi warga Kroco, tradisi ini bukan pesta rakyat semata. Ia menjadi ruang nguri-uri budaya sekaligus sarana pembersihan diri menjelang datangnya Bulan Ramadan, menyelaraskan laku spiritual dengan tanggung jawab ekologis.
Di Kroco, Merti Padukuhan mengajarkan bahwa menjaga mata air berarti menjaga kehidupan. Dari langkah kecil di dusun, warga Kulon Progo meneguhkan pesan besar: kebudayaan yang dirawat dengan kesadaran publik adalah fondasi keberlanjutan Yogyakarta.
sumber: Kulonprogokab.go.id














