Scroll untuk baca artikel
FavoritePeristiwaWisata

Melasti di Pantai Ngobaran, Nyepi 1948 Disiapkan

×

Melasti di Pantai Ngobaran, Nyepi 1948 Disiapkan

Sebarkan artikel ini

Gunungkidul tegaskan toleransi dan wisata religi berkelanjutan.

Umat Hindu DIY gelar Melasti di Pantai Ngobaran sambut Nyepi 1948. Gunungkidul masukkan agenda ini ke kalender wisata 2027. foto: Dok Gunungkidulkab.go.id

Gunungkidul, Voicejogja.com – Pagi di Pantai Ngobaran, doa-doa mengalun di antara debur ombak selatan. Ribuan umat Hindu DIY memadati pesisir Saptosari untuk menjalani upacara Melasti, rangkaian suci menyambut Nyepi Tahun Baru Saka 1948.

Melasti bukan sekadar ritual tahunan. Bagi warga, ini adalah ruang penyucian diri dan alam semesta, sekaligus peneguhan bahwa Gunungkidul adalah rumah bagi keberagaman yang dirawat bersama.

Penyucian Diri dan Alam Semesta

Upacara Melasti di Pantai Ngobaran dihadiri jajaran pejabat daerah, tokoh agama, serta Pinandita. Prosesi berlangsung khidmat sebagai bagian dari persiapan menuju Hari Suci Nyepi 2026.

Ketua PHDI DIY, AKBP (Purn) I Nengah Lotama, menyampaikan bahwa Melasti merupakan rangkaian rutin tahunan untuk menyucikan diri dan alam semesta sebelum memasuki Nyepi.

“Setelah prosesi di pantai ini, rangkaian kegiatan akan dilanjutkan dengan upacara Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan sekitar dua minggu mendatang,” ujarnya.

Rangkaian ini menjadi penanda kesinambungan tradisi keagamaan umat Hindu di Yogyakarta.

Simbol Toleransi di Pesisir Selatan

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul, Mukotib, menegaskan bahwa Pantai Ngobaran adalah simbol nyata toleransi.

“Di tempat ini, Pura Segara Wukir berdiri berdampingan dengan situs-situs bersejarah lainnya, membuktikan bahwa perbedaan adalah kekayaan yang harus dirawat bersama,” katanya.

Ia juga mengajak umat menjaga keharmonisan melalui semangat Sak Eko Kapti dan menjalankan kewajiban moral Hamemayu Hayuning Bawono untuk melestarikan alam semesta.

Pesan itu relevan bagi Gunungkidul yang terus bertumbuh sebagai destinasi wisata sekaligus ruang hidup lintas iman.

Foto: Dok Gunungkidulkab.go.id

Masuk Kalender Wisata 2027

Ketua Panitia Upacara, Punaji, menyampaikan terima kasih atas dukungan berbagai pihak sehingga prosesi berjalan lancar. Ia berharap Melasti tetap menjadi agenda tahunan dengan tata kelola yang semakin baik.

“Pantai Ngobaran kini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga destinasi wisata unggulan yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui kunjungan wisatawan,” ujarnya.

Dalam momentum tersebut, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, hadir di tengah umat. Ia menegaskan Melasti bukan sekadar tradisi, melainkan ritual suci untuk penyucian diri dan alam semesta.

“Gunung Kidul adalah rumah bagi keberagaman. Perayaan Nyepi termasuk rangkaian Melasti hari ini menjadi bukti bahwa toleransi dan kebersamaan harus terus kita jaga,” ujarnya.

Bupati juga mengumumkan bahwa Upacara Melasti akan dimasukkan ke dalam kalender event pariwisata mulai 2027. Kebijakan ini dimaksudkan untuk memberi dukungan fasilitas setara dengan perayaan keagamaan lainnya sekaligus mempromosikan wisata religi di Gunungkidul.

Infrastruktur dan Wajah Baru Ngobaran

Pemkab Gunungkidul juga fokus pada pengembangan infrastruktur menuju Pantai Ngobaran. Jalan Simpang Kepek–Ngobaran sepanjang 800 meter telah dibuka sebagai akses utama menuju kawasan wisata religi tersebut.

Ke depan, penataan wajah Pantai Ngobaran direncanakan agar menjadi destinasi yang lebih cantik dan nyaman, baik bagi umat yang beribadah maupun wisatawan.

Upacara Melasti ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan negara, serta harapan akan kesehatan dan keberkahan dalam menjalankan ibadah.

Di pesisir selatan itu, Gunungkidul kembali menunjukkan wajahnya: religius, terbuka, dan bertumbuh. Melasti bukan hanya perayaan spiritual, melainkan komitmen merawat harmoni, antara manusia, alam, dan keberagaman yang menjadi kekuatan Yogyakarta.(Oi)

Sumber: Gunungkidulkab.go.id