Yogyakarta, Voicejogja.com – Riuh langkah wisatawan kembali memenuhi Malioboro saat libur Lebaran 2026. Di tengah arus mudik dan balik, kawasan ikonik Jogja itu menjadi salah satu titik yang paling ramai, menandai geliat pariwisata yang kembali menggerakkan ekonomi.
Bagi pelaku usaha kecil hingga sektor transportasi, lonjakan ini bukan sekadar angka. Ia menjadi napas baru yang menghidupkan perputaran ekonomi di berbagai sudut kota.
Lonjakan Wisatawan, Jogja Jadi Sorotan
Momentum Lebaran 2026 mendorong pergerakan masyarakat dalam skala besar. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, total pergerakan penumpang nasional mencapai sekitar 147,55 juta orang, meningkat 2,53 persen dari proyeksi awal.
Dari jumlah itu, sekitar 12 persen atau setara 17,27 juta orang memanfaatkan libur Lebaran untuk berwisata. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 6,3 persen.
Di antara berbagai destinasi, Malioboro di Yogyakarta menjadi salah satu yang paling diminati dengan total kunjungan mencapai 468.004 wisatawan.
Pergeseran Pola Belanja Wisatawan
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyampaikan bahwa rata-rata pengeluaran wisatawan mengalami sedikit penurunan, baik per keluarga maupun per individu.
Dari sebelumnya sekitar Rp4,95 juta per keluarga menjadi Rp3,78 juta, dan dari Rp1,2 juta menjadi Rp1,15 juta per orang.
Namun, perubahan ini tidak mencerminkan penurunan konsumsi. Pola belanja masyarakat justru bergeser menjadi lebih efisien dan tersebar, terutama ke sektor wisata.
“Dengan meningkatnya jumlah pelaku perjalanan wisata, total pengeluaran pada sektor pariwisata mengalami kenaikan dari sekitar Rp11,04 triliun pada 2025 menjadi Rp19,86 triliun pada 2026,” ujar Ni Luh Puspa.
Pariwisata Jadi Motor Ekonomi
Lonjakan mobilitas selama Lebaran mendorong konsumsi lintas sektor. Transportasi, kuliner, UMKM, hingga akomodasi di daerah tujuan wisata ikut terdampak positif.
Kecenderungan masyarakat untuk berwisata bersama keluarga turut memperkuat peran pariwisata sebagai penggerak ekonomi.
“Momentum Lebaran tidak hanya menjadi tradisi sosial tahunan, tetapi juga berperan sebagai salah satu motor utama penggerak ekonomi nasional,” kata Ni Luh.
Bagi Jogja, kondisi ini mempertegas posisinya sebagai destinasi yang tidak hanya ramai, tetapi juga memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.
Destinasi Prioritas Ikut Terdorong
Kementerian Pariwisata mencatat pergerakan ke 10 Destinasi Pariwisata Prioritas mencapai 6,66 juta, naik 13,74 persen dibanding tahun sebelumnya.
Sementara tiga Destinasi Pariwisata Regeneratif mencatat 6,1 juta pergerakan, meningkat 24,63 persen.
Peningkatan tertinggi terjadi di Raja Ampat untuk destinasi prioritas dan Kepulauan Riau untuk destinasi regeneratif.
Dari keseluruhan aktivitas tersebut, estimasi pengeluaran wisatawan ke destinasi prioritas dan regeneratif mencapai lebih dari Rp12,27 triliun, atau sekitar 61,8 persen dari total pengeluaran nasional sektor pariwisata.
Upaya Menjaga Wisata Tetap Aman
Selama periode Lebaran, Kementerian Pariwisata juga menjalankan berbagai program untuk menjaga kualitas layanan wisata.
Mulai dari aktivasi layanan informasi Halo Wonderful, kampanye Bangga Berwisata di Indonesia, hingga penyelenggaraan 141 event di 32 provinsi.
Selain itu, pemantauan dilakukan di 173 titik destinasi wisata untuk memastikan kesiapan dan keamanan.
Isu-isu krisis, termasuk pungutan liar, juga dipantau secara intensif. Koordinasi dilakukan dengan pemerintah daerah dan aparat untuk penanganan cepat di lapangan.
“Misalnya ketika ada isu pungli, kami langsung berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menyelesaikan masalah tersebut sehingga bisa langsung diselesaikan di tempat,” ujar Ni Luh Puspa.
Geliat libur Lebaran 2026 memperlihatkan bagaimana pariwisata bukan sekadar perjalanan, tetapi bagian dari pergerakan ekonomi yang nyata.
Di Jogja, denyut itu terasa hingga ke pelaku usaha kecil, memperkuat harapan bahwa pariwisata bisa terus tumbuh secara berkelanjutan dan memberi manfaat lebih luas bagi warga.(Oi)
Sumber: Kemenpar














