Jakarta, Voicejogja.com – Di tengah perubahan sektor pertanian, peran mahasiswa mulai diposisikan lebih dekat dengan arah kebijakan nasional. Bagi banyak daerah, termasuk Yogyakarta yang kuat pada basis pendidikan, keterlibatan generasi muda menjadi penentu keberlanjutan pangan di masa depan.
Harapan ini muncul dari dorongan agar mahasiswa tidak hanya menjadi pengamat, tetapi ikut membentuk arah pertanian yang lebih kuat dan berdaya saing.
Mahasiswa dan Masa Depan Pertanian Nasional
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa mahasiswa memegang peran penting dalam menentukan arah masa depan bangsa, termasuk sektor pertanian.
Dalam diskusi bersama BEM dari seluruh Indonesia, ia menekankan pentingnya membekali generasi muda dengan nilai positif sebagai calon pemimpin.
“Karena ini nanti memimpin menggantikan kita. Pemimpin masa depan. Kita harus isi mereka dengan hal-hal positif,” ujarnya.
Kolaborasi Jadi Kunci Pembangunan
Menurutnya, pembangunan pertanian tidak bisa berjalan sendiri. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam memperkuat arah kebijakan dan implementasi program.
Mahasiswa diajak memahami program unggulan pemerintah, termasuk tujuan dan capaian yang telah diraih.
“Ini tidak bisa kita bangun jalan sendirian, tapi butuh kolaborasi,” kata Amran.
Nasionalisme dan Keberanian Mengambil Peran
Selain kolaborasi, generasi muda juga didorong untuk memiliki rasa percaya diri dan semangat nasionalisme dalam melanjutkan pembangunan pertanian.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa harus berani mengambil peran, termasuk dalam menghadapi berbagai tantangan yang merugikan bangsa.
“Cita-cita digantung setinggi-tingginya, dikejar jangan diam. Anda yang menentukan nasib anda,” tegasnya.
Kritik Mahasiswa Jadi Energi Perbaikan
Mahasiswa juga dipandang sebagai pengawas yang penting dalam jalannya program pemerintah. Kritik yang berbasis data dan fakta dinilai menjadi bagian dari proses perbaikan kebijakan.
Amran menyebut, kritik konstruktif justru dibutuhkan untuk menyempurnakan program yang berjalan.
“Kalau ada yang keliru, ayo kita sempurnakan. Negara butuh kritik konstruktif,” ungkapnya.
Hilirisasi Pertanian untuk Generasi Mendatang
Salah satu fokus yang disiapkan adalah pengembangan hilirisasi pertanian, termasuk pada komoditas strategis seperti sawit.
Potensi ini disebut memiliki nilai ekonomi besar dan akan menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengelola serta mengembangkan sektor pertanian ke depan.
“Ini sawit untuk generasi muda nanti. Nilainya kurang lebih hampir 1.000 triliun,” jelasnya.
Penutup
Bagi Yogyakarta sebagai kota pelajar, gagasan ini menjadi pengingat bahwa ruang kelas tidak berhenti di teori. Masa depan pertanian, dan ketahanan pangan, perlahan bergeser ke tangan generasi muda yang hari ini sedang belajar memahami arah bangsa.(Oi)
Sumber: kementerian Pertanian














