Yogyakarta, VoiceJogja.com – Di sebuah desa di Kecamatan Paguyangan, Brebes, peran suami dan istri berjalan berdampingan tanpa sekat kaku. Perempuan tidak hanya berada di ruang domestik, sementara laki-laki pun tidak memikul beban sendirian.
Temuan itu dibawa pulang ke Yogyakarta oleh Aisyah Dwi Arianti, mahasiswi Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), setelah menjalani riset lapangan selama satu bulan. Bagi Jogja sebagai kota pendidikan, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa ilmu sosial lahir dari kedekatan dengan manusia, bukan sekadar teori di ruang kelas.
Riset Lapangan yang Mengubah Cara Pandang
Ayis, sapaan akrabnya, mengikuti program Tim Penelitian Lapangan (TPL) pada Januari lalu bersama 104 mahasiswa lainnya. Mereka melakukan studi etnografi untuk memahami interaksi manusia dan kebudayaan secara langsung.
Di desa tempatnya tinggal, Ayis tergabung dalam tim kecil beranggotakan 13 orang. Fokus penelitiannya adalah isu gender dalam kehidupan rumah tangga.
Antropologi Budaya, menurutnya, bukan hanya mempelajari kesenian atau tradisi, tetapi bagaimana manusia menjalani aktivitas sehari-hari dengan pola hidup yang khas.

Kolaborasi, Bukan Kompetisi
Di Paguyangan, Ayis menemukan realitas yang berbeda dari stereotipe desa yang kerap dilekatkan dalam imajinasi publik.
“Di sana kolaborasi antara perempuan dan laki-laki itu menyatu banget. Tidak melulu laki-laki yang harus bekerja, tetapi para perempuan di sana juga memiliki pemberdayaan dan komunitasnya sendiri. Mereka selaras dalam merancang dan menjalani kehidupan rumah tangga,” ungkap mahasiswi asal Kudus tersebut.
Temuan ini menunjukkan bahwa kesetaraan gender tidak selalu hadir dalam bentuk wacana besar. Ia bisa tumbuh alami dalam praktik keseharian.
Bagi publik Jogja, riset semacam ini memperluas perspektif tentang bagaimana harmoni sosial dibangun dari tingkat keluarga.
Metode Etnografi: Belajar dari Kehidupan Nyata
Kunci dari penelitian ini adalah metode etnografi. Para mahasiswa tinggal dan hidup bersama warga selama sebulan penuh, membangun kedekatan melalui percakapan santai dan observasi partisipatif.
Pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam dibanding survei formal. Relasi yang terjalin membuka ruang kejujuran dan cerita yang sering kali tak tertangkap angka statistik.
Data yang dikumpulkan selama di Brebes akan diolah menjadi artikel ilmiah sebagai tugas mata kuliah. Tidak menutup kemungkinan, riset tersebut berkembang menjadi skripsi.
Jogja dan Tradisi Akademik yang Membumi
Sebagai kota yang menjadi rumah UGM, Yogyakarta terus menunjukkan perannya sebagai ruang lahirnya penelitian sosial yang relevan.
Pengalaman Ayis dan rekan-rekannya memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi tidak berhenti pada diskusi teoritis. Ia bergerak turun ke masyarakat, menyerap realitas, lalu kembali dengan perspektif yang lebih matang.
Dari Jogja, riset tentang gender dan kolaborasi rumah tangga ini memberi pesan sederhana namun penting: kesetaraan bisa tumbuh dari praktik keseharian, selama ada ruang saling percaya dan bekerja bersama.(Oi)














