Gunungkidul, VoiceJogja.com – Tanah yang retak dan puing longsoran masih terlihat di Padukuhan Jono, Kalurahan Tancep. Di kawasan perbukitan yang telah dipantau lebih dari sepuluh tahun itu, rasa cemas belum sepenuhnya hilang.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, turun langsung meninjau lokasi pasca-bencana tanah longsor pada Rabu pagi (18/2/2026). Kunjungan ini memastikan langkah penanganan darurat sekaligus arah kebijakan jangka panjang bagi warga terdampak.
Langkah Cepat dan Rumah Aman
Dalam peninjauan tersebut, Bupati menegaskan pentingnya keselamatan warga mengingat lokasi berada di zona rawan bencana.
“Sebagai langkah jangka pendek, berbagai unsur mulai dari TNI, Polri, Tagana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pekerjaan Umum (PU), hingga masyarakat setempat telah dikerahkan untuk membersihkan puing-puing longsoran,” ujar Endah.
Melihat kondisi tanah yang masih labil dan potensi longsor susulan saat hujan lebat, pemerintah daerah merekomendasikan agar rumah terdampak tidak lagi ditinggali.
Pemerintah desa diminta menyiapkan safety house atau rumah aman bagi warga yang rumahnya tidak layak huni. BPBD dan Dinas Sosial juga diinstruksikan menjamin ketersediaan logistik dan makanan selama masa darurat.
Opsi Relokasi dan Dukungan Sultan
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mulai mengkaji relokasi bagi warga yang tinggal di titik paling rawan.
“Kemarin waktu kita rapat bersama, bahwa ‘Ngarso Dalem’ (Sultan) telah memberikan izin penggunaan tanah Sultan Ground maupun tanah kas desa bagi warga miskin yang terdampak bencana alam,” kata Endah.
Lurah Tancep dan tokoh masyarakat diminta aktif mengedukasi warga agar bersedia direlokasi demi keselamatan.
“Pemerintah daerah akan mengajukan kepada Keraton untuk relokasi. Namun, ini membutuhkan edukasi kepada masyarakat karena tentu berat bagi warga untuk meninggalkan tempat tinggal yang sudah ditempati puluhan tahun,” ujarnya.
Bagi banyak keluarga, relokasi bukan sekadar pindah rumah, melainkan memindahkan kenangan dan sumber penghidupan. Karena itu, pendekatan sosial dinilai menjadi kunci.

Cuaca Ekstrem dan Mitigasi Lingkungan
Berdasarkan pantauan lapangan, longsor dipicu intensitas hujan sangat tinggi serta perubahan jalur aliran air di perbukitan. Material batu di bagian atas lereng meningkatkan risiko longsor susulan saat hujan deras kembali turun.
Selain relokasi, pelestarian alam menjadi bagian dari mitigasi jangka panjang. Pemerintah daerah berencana mendorong penanaman tanaman penguat tanah seperti vetiver (akar wangi) dan bambu di wilayah rawan.
“Karena ini bencana alam, maka kita harus melakukan pelestarian alam. Kita akan merekomendasi penanaman tanaman yang bisa menahan air dan tanah untuk menguatkan struktur lahan,” pungkasnya.
Menjaga nyawa, Menata Masa Depan
Peristiwa longsor Tancep menjadi pengingat bahwa Gunungkidul hidup berdampingan dengan risiko geografisnya. Di tengah cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi, kewaspadaan dan solidaritas warga menjadi modal utama.
Langkah relokasi dan penguatan mitigasi bukan sekadar respons darurat, tetapi upaya menjaga keselamatan sekaligus menata masa depan yang lebih aman bagi masyarakat di wilayah rawan bencana.(Oi)
Sumber: Gunungkidulkab.go.id














