Yogyakarta, Voicejogja.com – Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan menulis dan berpikir kritis menjadi bekal penting bagi generasi muda Jogja. Perpustakaan pun tak lagi sekadar rak buku, melainkan ruang tumbuh karakter.
Melalui Lomba Menulis Esai tingkat SMP/MTs se-DIY tahun 2026, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Yogyakarta menguatkan peran perpustakaan sebagai pusat literasi dan pembentukan karakter pelajar.
Perpustakaan sebagai Ruang Intelektual
Kepala DPK Kota Yogyakarta, Afia Rosdiana, menegaskan bahwa perpustakaan kini diarahkan menjadi pusat aktivitas intelektual.
“Perpustakaan hari ini bukan hanya tempat membaca buku. Kami ingin menjadikannya ruang pembentukan karakter, ruang kreativitas, dan ruang keberanian menyampaikan ide. Melalui lomba esai ini, anak-anak belajar menuangkan gagasan sekaligus meneguhkan nilai-nilai karakter yang mereka miliki,” ujarnya.
Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya mengandalkan prestasi akademik.
“Pembangunan sumber daya manusia tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter yang kuat sebagai fondasi unggul,” tegasnya.
Tema dan Mekanisme baru
Lomba esai ini mengusung tema “Bangga Menjadi Pelajar Berkarakter” dan terbuka bagi pelajar SMP/MTs sederajat se-DIY.
Kegiatan berlangsung pada 2 Maret hingga 10 April 2026. Pendaftaran dan pengumpulan karya dilakukan secara daring melalui tautan s.id/lombaesai2026, dan akan ditutup apabila telah mencapai 100 artikel.
Seleksi dilakukan secara objektif oleh dewan juri yang terdiri dari akademisi, pegiat literasi, dan pustakawan yang kompeten di bidang kepenulisan. Penilaian mencakup kesesuaian tema, kedalaman gagasan, orisinalitas, sistematika penulisan, dan penggunaan bahasa.
“Menulis esai bukan sekadar kompetisi. Ini proses pembelajaran. Anak-anak dilatih menyusun argumen secara runtut, reflektif, dan bertanggung jawab. Di situlah karakter terbentuk,” jelas Afia.
Ruang Presentasi dan Apresiasi
Sepuluh peserta terbaik akan melaju ke babak final untuk mempresentasikan karya di hadapan dewan juri.
Juara I akan memperoleh uang pembinaan Rp3 juta, Juara II Rp2,5 juta, dan Juara III Rp2 juta. Para juara juga akan mendapatkan Sertifikat Penghargaan Wali Kota Yogyakarta.
Bagi Jogja sebagai kota pendidikan, langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat citra perpustakaan sebagai pusat belajar, informasi, dan pemberdayaan masyarakat.
“Ketika perpustakaan aktif menghadirkan ruang-ruang kompetisi, diskusi, dan literasi, maka ia menjadi ekosistem pembelajaran yang hidup. Kami ingin pelajar merasa perpustakaan adalah tempat mereka bertumbuh, bukan hanya tempat meminjam buku,” pungkasnya.
Menjaga Masa Depan Literasi Jogja
Lomba esai DPK bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjadi cermin arah pembangunan literasi di Yogyakarta yang lebih partisipatif dan berkarakter.
Di ruang-ruang perpustakaan itulah, keberanian berpikir dan menulis dilatih sejak dini. Dan dari sana, Jogja menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara nilai.(Oi)














