Yogyakarta, Voicejogja.com – Suasana ruang baca yang biasanya tenang bisa berubah menjadi panggung kecil penuh imajinasi. Di sanalah anak-anak Kota Yogyakarta berdiri, menyuarakan kembali cerita rakyat yang selama ini hidup di lembaran buku.
Melalui Lomba Bertutur 2026, Perpustakaan Kota Yogya mengajak siswa SD/MI untuk tak sekadar membaca, tetapi menghidupkan kembali nilai perjuangan dan legenda Daerah Istimewa Yogyakarta. Bagi Jogja, ini bukan hanya lomba, melainkan ikhtiar menjaga akar budaya sejak usia dini.
Menguatkan Budaya Literasi Sejak Bangku SD
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta (DPK) kembali menggelar Lomba Bertutur tingkat Kota Yogyakarta tahun 2026. Agenda tahunan ini diarahkan untuk memperkuat budaya literasi sekaligus melestarikan kekayaan cerita rakyat DIY di kalangan generasi muda.
Salah satu panitia, Fetti Conita, menegaskan lomba ini bukan sekadar kompetisi.
“Tujuan lomba bertutur adalah untuk menumbuhkan minat baca, melestarikan budaya melalui cerita rakyat, meningkatkan keterampilan bertutur siswa SD/MI di Kota Yogyakarta, serta mengenalkan perpustakaan sebagai pusat literasi bagi generasi muda,” ujarnya, Selasa (3/2/2026).
Sasaran kegiatan ini adalah siswa kelas 4 dan 5 SD/MI, baik negeri maupun swasta di wilayah Kota Yogyakarta, dengan kuota maksimal 100 peserta.
Kesempatan Tumbuh yang Lebih Merata
Setiap sekolah diperbolehkan mengirimkan maksimal dua peserta. Namun, siswa yang pernah menjadi juara I pada Lomba Siswa Bertutur tahun sebelumnya tidak diperkenankan mengikuti lomba ini.
Ketentuan tersebut dimaksudkan agar lebih banyak anak mendapatkan kesempatan tampil dan berkembang.
Peserta diwajibkan melampirkan surat keterangan dari kepala sekolah, ringkasan cerita 1–3 halaman ukuran kuarto, fotokopi sampul buku sumber cerita, serta fotokopi daftar isi. Seluruh berkas dikumpulkan tiga rangkap.
Pendaftaran dibuka mulai 3 Maret hingga 2 April 2026. Berkas diserahkan langsung ke Perpustakaan Kota Yogyakarta, Jalan Suroto Nomor 9, Kotabaru, pada jam kerja Senin–Kamis pukul 08.00–14.00 WIB dan Jumat pukul 08.00–11.00 WIB. Informasi lengkap dapat diakses melalui tautan s.id/LombaBertuturPuskot.

Menghidupkan Kembali Cerita rakyat Jogja
Materi lomba bersumber dari buku Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta yang dapat diperoleh dari perpustakaan sekolah, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, maupun perpustakaan umum tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
Cerita yang dipilih harus memuat nilai perjuangan, kepahlawanan, atau legenda. Panitia tidak memperbolehkan penggunaan cerita bertokoh binatang atau fabel sebagai materi lomba.
Dari maksimal 100 peserta di babak penyisihan, akan dipilih 15 terbaik untuk melaju ke final.
“Pada tahap final, 15 peserta tersebut akan kembali dinilai untuk menentukan juara I, juara II, dan juara III,” jelas Fetti.
Penilaian meliputi penampilan, teknik bertutur, penguasaan materi, serta kemampuan bertutur secara keseluruhan.
Apresiasi dan Arah Masa Depan Literasi Jogja
Para pemenang akan menerima uang pembinaan dan sertifikat yang ditandatangani Wali Kota Yogyakarta. Juara I memperoleh Rp3.000.000, juara II Rp2.500.000, dan juara III Rp2.000.000. Pengumuman pemenang dijadwalkan pada 6 Mei 2026.
Lebih dari sekadar hadiah, lomba ini menjadi cara Jogja memastikan cerita-cerita daerah tetap hidup di tengah arus digital.
“Lomba ini diharapkan tidak hanya melahirkan juara, tetapi juga generasi muda yang gemar membaca, bangga terhadap budaya daerah, serta memiliki kemampuan komunikasi yang baik sejak usia sekolah dasar,” tuturnya.
Di tengah tantangan literasi dan gempuran konten instan, langkah ini menjadi penegasan bahwa Jogja tetap menempatkan buku, cerita rakyat, dan kemampuan bertutur sebagai fondasi karakter warganya. Dari ruang perpustakaan, masa depan budaya kota ini sedang dirawat perlahan.(Oi)
Sumber: Warta.Jogjakota.go.id














