Scroll untuk baca artikel
DaerahFavoritePemerintah

Linmas Perempuan dan Wajah Humanis Ketertiban Kota Yogyakarta

×

Linmas Perempuan dan Wajah Humanis Ketertiban Kota Yogyakarta

Sebarkan artikel ini
Pemkot Yogyakarta mendorong penambahan Linmas perempuan untuk menghadirkan pendekatan humanis dalam menjaga ketertiban dan perlindungan masyarakat. Foto: Dok Warta.jogjakota.go.id

Yogyakarta, VoiceJogja.com – Ketertiban kota tidak selalu hadir lewat suara keras atau seragam yang tegas. Di Yogyakarta, wajah ketenteraman justru dibayangkan semakin humanis ketika perempuan mengambil peran lebih besar di Satuan Perlindungan Masyarakat. Pemerintah Kota Yogyakarta melihat arah ini sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kota dengan sentuhan empati.

Satuan Perlindungan Masyarakat atau Satlinmas selama ini menjadi sosok yang kerap hadir paling dekat dengan denyut keseharian warga. Mereka menjaga ketertiban, membantu pengamanan kegiatan, hingga hadir saat warga membutuhkan perlindungan, sering kali tanpa sorotan dan tanpa pamrih.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menegaskan posisi strategis Satlinmas sebagai garda terdepan dalam urusan ketenteraman dan ketertiban umum. Dalam forum laporan kinerja Satlinmas di Balai Kota Yogyakarta, ia menyebut Linmas sebagai kekuatan sosial yang bekerja dengan semangat pengabdian, bukan demi popularitas. Prinsip “ora perlu kondang sing penting tumandang” menjadi gambaran sikap kerja yang selama ini dijaga.

Foto: Dok warta.Jogjakota.go.id

Bagi Wawan, kehadiran Linmas di tengah masyarakat tidak bisa digantikan oleh sistem atau teknologi semata. Mereka mengenal wilayah, memahami warganya, dan hadir langsung dalam berbagai situasi. Karena itu, Pemerintah Kota Yogyakarta berkomitmen memberi dukungan berkelanjutan, mulai dari peningkatan kapasitas hingga perhatian terhadap peran mereka di tingkat kelurahan.

Salah satu perhatian yang kini didorong adalah peningkatan keterwakilan perempuan dalam keanggotaan Linmas. Saat ini, proporsi Linmas perempuan masih sekitar 11 persen. Pemerintah kota menargetkan angka tersebut dapat meningkat hingga 20–30 persen.

Menurut Wawan, keterlibatan perempuan membawa pendekatan yang lebih persuasif dan membumi. Ia menggambarkannya seperti peran seorang ibu yang mengingatkan dengan ketegasan sekaligus kehangatan. Pendekatan semacam ini dinilai relevan untuk menjaga ketertiban sosial tanpa menimbulkan jarak dengan warga.

Selain mendorong keterlibatan perempuan, Pemerintah Kota Yogyakarta juga menekankan pentingnya komunikasi dua arah antara Linmas dan pemerintah. Wawan menyatakan akan lebih sering hadir langsung di seluruh kelurahan dan meminta Linmas aktif menyampaikan kondisi riil di lapangan. Informasi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk memetakan persoalan dan menyusun langkah penanganan yang tepat.

Linmas, dalam pandangan ini, tidak sekadar petugas lapangan, tetapi juga menjadi mata dan telinga pemerintah kota. Dari laporan sederhana tentang dinamika lingkungan hingga potensi persoalan sosial, semuanya menjadi bagian dari upaya menjaga Yogyakarta tetap aman dan nyaman.

Foto: Dok Warta.jogjakota.go.id

Sejalan dengan itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Yogyakarta, Octo Noor Arafat, menegaskan bahwa Satlinmas adalah kekuatan relawan berbasis masyarakat yang perlu didukung secara konsisten. Meski berstatus sukarela, Linmas tetap membutuhkan pembekalan pengetahuan dan keterampilan agar siap menghadapi berbagai situasi.

Saat ini, jumlah anggota Linmas di Kota Yogyakarta sekitar 4.000 orang. Sebagian di antaranya telah mengikuti pelatihan lintas sektor bersama unsur TNI, Polri, dan Basarnas. Pelatihan tersebut menjadi bekal dalam menghadapi persoalan ketertiban umum maupun situasi kebencanaan yang bisa muncul sewaktu-waktu.

Dorongan memperkuat Linmas, termasuk membuka ruang lebih besar bagi perempuan, menjadi bagian dari cara Yogyakarta merawat ketertiban kotanya. Bukan dengan pendekatan represif, melainkan melalui kehadiran warga yang saling menjaga, bekerja dengan nurani, dan berakar pada nilai kebersamaan. Di sanalah wajah Jogja sebagai kota yang aman, humanis, dan berkeadaban terus dibangun.

sumber: Warta.jogjakota.go.id