Bantul, VoiceJogja.com – Pantai Parangkusumo pagi itu dipenuhi suara doa, aroma sesaji, dan langkah pengunjung yang khidmat. Labuhan Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X mengajak warga menyatukan harapan untuk keselamatan, ketenteraman, dan keberkahan bagi Keraton dan Jogja.
Setiap butir pasir di bibir Parangkusumo seolah menyimpan doa yang dipanjatkan oleh abdi dalem, juru kunci, dan ratusan warga yang hadir. Upacara adat labuhan Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem, bagian dari peringatan Jumenengan Dalem ke-38 Sri Sultan Hamengkubuwono X, dimulai dengan serah terima ubarampe di Kantor Kapanewon Kretek.
Ubarampe yang diserahkan oleh KRT Kusumo Negoro kepada Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menandai dimulainya prosesi labuhan. Setelah doa dipanjatkan di Cepuri, ubarampe dibawa ke bibir Pantai Parangkusumo dan dilabuhkan ke Samudra Hindia, sebagai simbol pengharapan akan keselamatan dan harmoni antara Keraton, masyarakat, dan alam.
Bupati Bantul menekankan pentingnya makna sangkan paran dalam budaya Jawa, pemahaman asal-usul dan tujuan hidup yang mengajarkan keselarasan dan harmoni. Ia mengingatkan generasi muda untuk memahami dan melestarikan tradisi agar identitas dan karakter bangsa tetap terjaga.
Antusiasme warga terlihat jelas. Terik matahari tidak mengurangi langkah mereka untuk mengikuti jalannya upacara hingga selesai, menghormati tradisi yang diwariskan lintas generasi. Keberagaman pengunjung juga terlihat, termasuk warga mancanegara seperti Attila Bartis dari Hungaria, yang mengagumi keberlangsungan tradisi di tengah perubahan zaman.
“Melihat upacara tradisional yang masih dilaksanakan dengan konsisten di tengah dunia yang cepat berubah, bagi saya ini luar biasa,” ungkapnya.
Labuhan Tingalan Jumenengan Dalem tidak hanya dilaksanakan di Parangkusumo, tetapi juga di Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih, Wonogiri, tempat Pangeran Mangkubumi menerima wahyu. Tahun ini, pelaksanaan lebih lengkap mengikuti siklus penanggalan Jawa, menguatkan makna spiritual dan simbolik dari ritual sakral ini.
Upacara labuhan menjadi momen bagi warga Jogja dan para pengunjung untuk memaknai ulang keberlanjutan budaya, doa keselamatan, dan tanggung jawab bersama menjaga nilai-nilai luhur yang membentuk identitas kota.
sumber: bantulkab.go.id














