Kulon Progo, VoiceJogja.com – Upaya menekan penularan tuberkulosis di Kulon Progo memasuki babak baru. Melalui penguatan Active Case Finding (ACF) TBC yang melibatkan warga Sentolo, pemerintah daerah bersama Pemerintah Pusat menegaskan komitmen menghadirkan layanan kesehatan yang lebih dekat, tanggap, dan berkeadilan.
Langkah aktif Pemerintah Kabupaten Kulon Progo dalam mengendalikan tuberkulosis (TBC) kembali ditegaskan melalui dimulainya kegiatan Active Case Finding (ACF).
Program ini menjadi ikhtiar bersama untuk menemukan kasus lebih dini, sekaligus memutus mata rantai penularan penyakit menular yang masih menjadi tantangan kesehatan publik.
Pelaksanaan ACF di Kalurahan Sentolo mendapat dukungan langsung dari Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K), yang hadir bersama Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko, didampingi jajaran Forkopimda, Sekda Triyono, dan organisasi perangkat daerah.
Kehadiran lintas unsur ini menandai keseriusan negara dan daerah dalam menempatkan kesehatan warga sebagai prioritas bersama.

Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko, menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Kesehatan. Menurutnya, penguatan ACF menjadi momentum penting untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Kulon Progo, sekaligus memperkuat sinergi antara pusat, daerah, dan komunitas lokal.
Ia menegaskan bahwa upaya memerangi TBC tidak dapat dibebankan hanya kepada tenaga kesehatan. Peran tokoh masyarakat, aparat kewilayahan, hingga jejaring sosial di tingkat kalurahan menjadi penopang utama keberhasilan program.
Gotong royong, bagi Ambar, adalah kunci agar upaya pencegahan dan pengobatan berjalan berkelanjutan.
Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, menjelaskan bahwa penguatan ACF TBC di Kulon Progo sejalan dengan agenda nasional percepatan pemberantasan TBC.
Indonesia saat ini masih menghadapi beban TBC yang besar, dengan posisi sebagai negara dengan kasus tertinggi kedua di dunia.
Di Kulon Progo sendiri, tercatat sekitar 429 kasus TBC yang telah terdeteksi. Namun, masih diperkirakan terdapat ratusan kasus lain yang belum ditemukan dan berpotensi menularkan bakteri di lingkungan sekitarnya. Kondisi ini menuntut pendekatan yang lebih proaktif dan menjangkau langsung kehidupan warga.
Strategi yang ditempuh tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada pemeriksaan kesehatan gratis secara masif. Petugas akan mendatangi rumah pasien TBC untuk melakukan skrining kepada seluruh anggota keluarga.
Pemeriksaan meliputi deteksi TBC, pengecekan tekanan darah dan gula darah, hingga pemeriksaan rontgen dada guna mendeteksi kelainan paru dan jantung. Bagi keluarga yang sehat, disiapkan obat pencegahan, sementara pasien mendapatkan pengobatan hingga tuntas.
Dengan kolaborasi lintas kementerian dan dukungan pemerintah daerah, Kementerian Kesehatan optimistis angka TBC di Kulon Progo dapat ditekan secara signifikan dan bergerak menuju target eliminasi pada 2027.
Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo, dr. RR. Susilaningsih, M.PH., mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menyusun ulang strategi dan menghitung kebutuhan anggaran untuk mengoptimalkan penemuan kasus.
Hingga akhir 2025, capaian penemuan kasus baru mencapai 44 persen dari target, sehingga diperlukan penguatan dukungan pendanaan dan metode penjangkauan.
Meski pelacakan kontak telah dilakukan secara masif oleh Puskesmas, tantangan teknis dan sosial masih kerap ditemui. Idealnya, satu pasien positif TBC diikuti pelacakan terhadap delapan hingga sepuluh kontak erat. Namun, kualitas sampel pemeriksaan dan masih kuatnya stigma sosial terhadap TBC menjadi hambatan yang harus dihadapi bersama.

Stigma tersebut, menurut dr. Susilaningsih, sering membuat warga enggan memeriksakan diri karena takut dikucilkan. Padahal, TBC merupakan penyakit akibat bakteri yang dapat disembuhkan secara total jika ditangani dengan tepat dan konsisten.
Data hingga akhir 2025 menunjukkan konsentrasi kasus TBC tertinggi berada di wilayah Wates dan Sentolo. Untuk mengejar target 2026, Dinas Kesehatan akan mengintensifkan investigasi kontak dengan melibatkan perguruan tinggi, sekaligus memperluas layanan jemput bola langsung ke rumah warga.
Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab keterbatasan waktu masyarakat dan meningkatkan partisipasi pemeriksaan kesehatan.
Bagi Kulon Progo, penguatan ACF TBC bukan sekadar program kesehatan. Ia adalah ikhtiar menjaga martabat hidup warga, memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk sehat, serta meneguhkan bahwa kesehatan publik adalah tanggung jawab bersama.
sumber: Kominfo Kulon Progo














