Kulon Progo, Voicejogja.com – Pagi di Aula Adikarta terasa berbeda. Di tengah keterbatasan anggaran, ada semangat yang tetap terjaga, bahwa pelayanan publik tidak boleh ikut surut.
Bagi warga Kulon Progo, hasil kerja itu bukan sekadar laporan. Ia hadir dalam jalan yang diperbaiki, peluang ekonomi yang tumbuh, dan harapan yang tetap menyala di tengah efisiensi.
Kinerja ASN di Tengah Tekanan
Rapat Koordinasi Pengendalian Pembangunan Triwulan I 2026 menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan arah.
Bupati R. Agung Setyawan memberikan apresiasi kepada ASN yang tetap menjaga kinerja meski menghadapi tekanan efisiensi.
“Jika bukan karena dedikasi, ini sesuatu yang tidak mungkin terjadi,” ungkapnya, menyinggung kerja kolektif yang berjalan di balik capaian daerah.
Kulon Progo mencatat penurunan angka kemiskinan tertinggi di DIY dalam setahun terakhir, sebuah indikator yang langsung menyentuh kehidupan warga.
Inovasi Lahir dari Keterbatasan
Di tengah keterbatasan, inovasi justru menemukan momentumnya.
Kulon Progo menjadi yang pertama di Indonesia dalam penyelenggaraan embarkasi haji mandiri tanpa asrama permanen. Sebuah langkah yang menunjukkan bahwa solusi bisa lahir dari keberanian berpikir berbeda.
Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana efisiensi tidak selalu berarti pengurangan, tetapi bisa menjadi pintu masuk inovasi pelayanan publik.
Infrastruktur dan Arah Pembangunan
Komitmen terhadap kebutuhan dasar warga tetap menjadi prioritas.
Anggaran perbaikan jalan kabupaten dinaikkan signifikan, dari Rp20,7 miliar menjadi Rp39 miliar. Langkah ini diarahkan untuk menjawab persoalan infrastruktur yang menumpuk selama bertahun-tahun.
Di sisi lain, sektor pariwisata mulai diarahkan menuju konsep quality tourism. Kawasan utara seperti Samigaluh hingga Kalibawang, jalur Pansela, serta pengembangan aerotropolis menjadi fokus penguatan ke depan.
Komunikasi Publik yang Lebih Terbuka
Selain pembangunan fisik, perhatian juga diberikan pada cara pemerintah berkomunikasi dengan warga.
Bupati menilai media sosial belum dimanfaatkan optimal sebagai ruang edukasi dan transparansi.
“Sosmed bukan untuk kepentingan penguasa, tapi untuk menunjukkan bahwa kita hadir melayani,” tegasnya.
Pesan ini menegaskan bahwa kepercayaan publik tidak hanya dibangun lewat kerja, tetapi juga lewat keterbukaan.
Menjaga Arah Pertumbuhan
Kulon Progo saat ini berada di peringkat ketiga kinerja pembangunan tingkat DIY. Namun, optimisme tetap terjaga.
Pengembangan Sentolo dan Wates sebagai pusat industri dan hunian baru disiapkan, dengan tetap menjaga Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan menjadi arah yang terus dijaga.
Penutup
Di tengah keterbatasan, Kulon Progo memilih untuk tidak berhenti bergerak.
Inovasi, pelayanan, dan keberpihakan pada warga menjadi fondasi yang terus diperkuat.
Bagi Jogja, langkah ini bukan hanya tentang capaian daerah. Ini adalah pengingat bahwa masa depan dibangun dari keberanian untuk tetap bekerja, bahkan saat ruang terasa sempit.(Oi)
Sumber: Kulonprogokab.go.id














