Scroll untuk baca artikel
BisnisDaerahEkonomiFavorite

Kreasi Ayu Kulon Progo Ubah Limbah Kayu Jadi Bisnis

×

Kreasi Ayu Kulon Progo Ubah Limbah Kayu Jadi Bisnis

Sebarkan artikel ini

Dari masa pandemi, kreativitas warga Nanggulan melahirkan usaha kerajinan bernilai ekonomi.

Kreasi Ayu di Kulon Progo mengolah limbah kayu menjadi kerajinan bernilai ekonomi sejak pandemi COVID-19 dan kini menjangkau pasar nasional. foto: Istimewa

Kulon Progo, Voicejogja.com – Potongan kayu sisa industri mebel yang biasanya terbuang kini justru menjadi sumber penghidupan baru bagi sebuah keluarga di Kulon Progo. Dari tangan kreatif Anggit dan suaminya, Markus Sukarno Wibowo, limbah kayu sederhana berubah menjadi produk kerajinan bernilai jual.

Usaha bernama Kreasi Ayu itu lahir di tengah masa sulit pandemi COVID-19 pada 2020. Dari kebun rumah di Nanggulan, sebuah ide sederhana berkembang menjadi bisnis kerajinan yang kini menjangkau pasar berbagai daerah di Indonesia.

Lahir dari Tekanan Pandemi

Pandemi menjadi titik balik bagi Anggit. Usaha yang sebelumnya ia jalankan harus berhenti ketika aktivitas ekonomi melambat.

Situasi itu memaksanya mencari cara baru agar dapur tetap menyala. Bersama suaminya, ia mulai melihat potensi di sekitar rumah.

“Awal mulanya karena COVID-19 itu. Kita harus mikir usaha baru karena usaha yang lama gulung tikar. Akhirnya lihat-lihat di kebun, ada kayu nih mau diapain,” kenang Anggit saat ditemui di sela Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (JIFFINA) 2026.

Dari percobaan kecil itulah lahir berbagai produk kerajinan kayu yang perlahan mendapat perhatian pasar.

Limbah Kayu Kadi Produk Bernilai

Lokasi rumah mereka di Nanggulan, Kulon Progo, ternyata memberi keuntungan tersendiri. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu kawasan industri mebel, sehingga limbah kayu cukup mudah ditemukan.

Potongan pinggiran kayu yang tidak terpakai oleh industri besar justru menjadi bahan baku utama Kreasi Ayu.

“Sebelah rumah itu kan mebel besar, mereka sering buang pinggiran kayu yang menurut mereka tidak dipakai. Kita manfaatkan itu karena suami basic-nya desain, jadi bisa dikreasikan,” jelas Anggit.

Dengan latar belakang desain yang dimiliki Markus, limbah kayu tersebut diolah menjadi berbagai produk seperti dekorasi rumah, perlengkapan fungsional, hingga souvenir pernikahan.

Beberapa produk bahkan dikombinasikan dengan material lain seperti resin dan plat nama kustom, memberi karakter unik yang membedakan dari kerajinan kayu pada umumnya.

FFoto: Istimewa

Dari Rumah ke Pameran Internasional

Respons pasar yang terus tumbuh membuat Kreasi Ayu berani membuka galeri fisik pada 2022. Langkah ini menjadi tonggak penting bagi usaha rumahan yang sebelumnya hanya beroperasi secara sederhana.

Pada 2026, Kreasi Ayu mendapat kesempatan tampil dalam JIFFINA 2026, pameran furnitur dan kerajinan berskala internasional di Yogyakarta. Keikutsertaan ini difasilitasi oleh Dinas Kabupaten Kulon Progo.

Meski belum menembus pasar ekspor, jangkauan penjualan mereka telah meluas ke berbagai daerah.

“Kalau ekspor kebetulan belum, masih lokal. Tapi kita sudah pernah kirim ke Lampung, Kalimantan, dan paling banyak masih di area Pulau Jawa,” ujar Anggit.

Kehadiran UMKM seperti Kreasi Ayu memperlihatkan bagaimana kreativitas warga mampu memberi nilai baru pada limbah sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

Semangat Mencoba bagi Generasi Muda

Bagi Anggit, perjalanan usahanya adalah bukti bahwa peluang bisa muncul dari situasi yang paling tidak terduga.

Ia berharap kisah Kreasi Ayu dapat memberi keberanian bagi generasi muda untuk mencoba membangun usaha sendiri, bahkan dari hal yang tampak sederhana.

“Jangan takut buat mencoba. Kita enggak tahu ke depannya bakal kayak gimana kalau kita belum mencoba. Tetap semangat walaupun keadaan sedang tidak baik-baik saja,” katanya.

Dari potongan kayu yang dulu dianggap sisa produksi, sebuah usaha keluarga di Kulon Progo kini menunjukkan bahwa kreativitas dan ketekunan dapat membuka jalan baru bagi ekonomi lokal Yogyakarta.(Oi)