Yogyakarta, Voicejogja.com – Di lereng, sungai berbatu, hingga jalur pasir yang menantang, suara mesin motor trail kerap memecah sunyi alam Yogyakarta. Bagi komunitas trail trabasan, medan seperti itu bukan sekadar jalur petualangan, melainkan ruang untuk menguji strategi, keberanian, dan mental.
Komunitas trail trabasan di Yogyakarta terus berkembang sebagai ruang kebersamaan bagi para penggemar motor trail. Di balik tantangan medan ekstrem, ada cerita tentang solidaritas, disiplin, dan cara unik membangun mental para pengendara.

Menaklukan Rintangan, Bukan Kecepatan
Bagi Pak Taufik, motor trail bukan sekadar kendaraan untuk melaju cepat. Ia sudah bergabung dengan komunitas trabasan sejak 2008 dan melihat olahraga ini sebagai permainan strategi menghadapi rintangan.
“Unsurnya itu obstacle. Bukan untuk pacuan, tapi untuk strategi dan tantangan berkaitan dengan rintangan,” ujar Pak Taufik.
Di dunia trabasan, kemampuan membaca medan menjadi kunci. Pengendara harus mampu memilih jalur terbaik, mengatur keseimbangan, dan tetap tenang ketika menghadapi kondisi yang tidak terduga.

Alam Jogja jadi Arena Tantangan
Kegiatan komunitas ini biasanya berlangsung di alam terbuka. Para anggota menjajal berbagai medan seperti tebing, sungai berbatu, jurang, hingga jalur pasir yang menguras tenaga.
Sesekali mereka juga berlatih di lintasan Enduro Cross, jalur dengan rintangan buatan yang dirancang khusus untuk menguji teknik dan ketahanan fisik.
Bagi para anggota, trabasan bukan hanya olahraga, tetapi juga cara menikmati alam Yogyakarta yang masih alami. Di tengah rutinitas pekerjaan, perjalanan di jalur tanah menjadi ruang melepas penat sekaligus menguji kemampuan diri.
Budaya “Bully” yang Menguatkan Mental
Di balik solidaritas komunitas ini, ada tradisi unik yang sering disalahpahami oleh orang luar.
Ketika seorang pengendara gagal melewati rintangan, terjatuh, atau mengalami kerusakan motor, rekan-rekannya justru akan melontarkan ejekan.
Namun bagi mereka, ejekan itu bukan bentuk permusuhan.
“Kita harus kuat di-bully. Kalau berhasil tidak dipuji, tapi kalau gagal pasti di-bully. Itu untuk memperkuat mental kita menjadi fighter sejati secara individu,” kata Pak Taufik sambil tertawa.
Tradisi tersebut menjadi cara komunitas membentuk mental tangguh bagi setiap anggota.

Pesan untuk Rider Pemula
Bagi masyarakat yang tertarik mencoba dunia trabasan, terutama anak muda, Pak Taufik menyarankan agar memulai dari komunitas pemula terlebih dahulu.
Medan yang ditempuh komunitasnya saat ini sudah tergolong ekstrem. Tanpa pengalaman yang cukup, risiko cedera maupun kerusakan kendaraan bisa sangat besar.
Untuk mengetahui kegiatan komunitas trail di tingkat daerah, para peminat juga dapat mengikuti informasi melalui IOF (Indonesia Off-Road Federation) Pengda DIY, yang menjadi wadah koordinasi off-road di Yogyakarta.
Identitas Seorang Rider
Di kalangan komunitas, Pak Taufik dikenal dengan panggilan “Paijo” atau PA 170. Nama itu sekaligus menjadi identitas yang ia gunakan di media sosial.
Bagi dirinya, nomor dan nama tersebut bukan sekadar julukan. Identitas itu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya selama belasan tahun menjelajahi jalur tanah bersama komunitas trail trabasan Yogyakarta.(Oi)














