Scroll untuk baca artikel
BudayaDaerahFavoriteLifestylePeristiwa

Kirab Gunungan Apem Gendeng, Ruwahan Menguatkan Jogja

×

Kirab Gunungan Apem Gendeng, Ruwahan Menguatkan Jogja

Sebarkan artikel ini

Tradisi warga Baciro yang merawat budaya dan kebersamaan.

Kirab Gunungan Apem ke-13 Kampung Gendeng Baciro jadi wujud pelestarian tradisi Ruwahan dan penguat gotong royong warga Jogja. foto: Dok Warta.jogjakota.go.id

Gondokusuman, VoiceJogja.com – Aroma apem dan ketan kolak menyatu dengan iringan musik tradisional di ruas-ruas Kampung Gendeng, Kelurahan Baciro. Sejak pagi, anak-anak, remaja, hingga lansia berjalan bersama dalam Kirab Gunungan Apem ke-13, merayakan tradisi Ruwahan yang telah dirawat lebih dari satu dekade.

Bagi warga Gondokusuman, kirab ini bukan sekadar pawai tahunan. Ia menjadi ruang syukur, doa, sekaligus cara menjaga ingatan kolektif tentang asal-usul kampung di tengah dinamika Kota Yogyakarta.

Foto: Dok Warta.Jogjakota.go.id

Dua Gunungan, Satu Semangat Syukur

Kirab Gunungan Apem tahun ini kembali menghadirkan dua gunungan: Gunungan Lanang dan Gunungan Wedhok. Keduanya berisi apem serta ketan kolak, sesuai tradisi Ruwahan.

“Dua gunungan ini nanti diperebutkan masyarakat. Karena ini momentum Ruwah, maka kita fokus pada makna syukur dan doa,” ujar Ketua Panitia, Fajar Ristanto, saat ditemui di RTHP Fasilitas Umum Baciro, Minggu (15/2).

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama, lalu pawai keliling kampung sebelum gunungan dirayah warga. Sebelumnya, pada Sabtu (14/2), telah digelar doa bersama, kembul bujono, serta tabur bunga di makam para pinisepuh sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Foto: Dok Warta.Jogjakota.go.id

Jejak Kampung dari Kolam Ikan ke Pemukiman Padat

Fajar menuturkan, Kampung Gendeng dahulu merupakan wilayah kecil yang didominasi kolam ikan dan tegalan. Nama-nama gang seperti Lele, Mujair, hingga Tawes menjadi jejak sejarah tersebut.

“Kampung Gendeng ini dulu termasuk kampung yang sangat kecil karena mulai tahun 40-an baru ditinggali. Awal mulanya di sini ada kolam-kolam ikan. Makanya banyak nama gang Lele, Mujair, Tawes dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Kawasan ini juga dikenal sebagai tanah kering yang ditanami ketela, sukun, dan tanaman kebun lainnya secara konvensional. Kini, Kampung Gendeng berkembang dengan 35 RT, 7 RW, dan lebih dari 1.900 kepala keluarga.

Perubahan fisik kampung tak menghapus identitasnya. Tradisi Ruwahan justru menjadi jangkar nilai di tengah pertumbuhan wilayah perkotaan

Foto: Dok Warta.Jogjakota.go.id

.

Gotong Royong sebagai Kekuatan Kota

Kirab Gunungan Apem dihadiri Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, jajaran DPRD Kota Yogyakarta, serta Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Ia menyampaikan apresiasi atas konsistensi warga menjaga tradisi.

“Kulo ngaturaken apresiasi sanget dhumateng warga Kampung Gendeng. Menika mboten namung acara seremonial, nanging tradisi ingkang dipun rawat kanthi gotong royong lan kebersamaan. Inilah kekuatan budaya Kota Yogyakarta,” ungkapnya.

Ia menegaskan, tradisi Ruwahan mengandung makna bersih lahir dan batin yang juga tercermin dalam kepedulian terhadap lingkungan.

“Tradisi ruwahan niki simbah-simbah riyen mestani bersih-bersih. Bersih niku artine resik. Saya berharap di Kota Yogyakarta jangan ada rumput liar, jangan ada sampah liar. Semua kita bersihkan,” tegasnya.

Menurutnya, semangat gotong royong warga tetap terjaga meski berada di kawasan perkotaan. “Gotong royong masyarakat luar biasa. Sanajan wong kuto, ning teseh sae anggenipun gotong royong. Alhamdulillah,” tuturnya.

Foto: Dok Earta.jogjakota.go.id

Menjaga Ruwahan, Menjaga Arah Jogja

Kirab Gunungan Apem bukan hanya agenda tahunan. Ia adalah cara warga Baciro menegaskan bahwa budaya tidak berhenti pada simbol, melainkan hidup dalam praktik kebersamaan.

Di tengah perubahan kota yang cepat, tradisi Ruwahan mengingatkan bahwa Jogja bertumpu pada nilai gotong royong, penghormatan pada leluhur, dan kepedulian lingkungan.

Ketika gunungan dirayah dan warga berbagi hasilnya, yang dirawat bukan hanya makanan, tetapi juga rasa memiliki. Dari kampung seperti Gendeng, wajah masa depan Yogyakarta terus dibentuk, dengan budaya sebagai fondasinya.(Oi)

Sumber: Warta.Jogjakota.go.id