Yogyakarta, VoiceJogja.com – Di tengah ritme kota yang kian cepat, perpustakaan justru menemukan momentumnya. Sepanjang 2025, ruang-ruang literasi milik Kota Yogyakarta semakin ramai dikunjungi, menandai pergeseran cara warga belajar, bertemu, dan bertumbuh bersama.
Perpustakaan Kota Yogyakarta mencatat antusiasme publik yang kian menguat sepanjang tahun 2025. Total kunjungan mencapai 163.210 orang, datang dari berbagai layanan yang tersebar dan menjangkau beragam kelompok warga.
Perpustakaan Kotabaru menyumbang 66.250 kunjungan, Perpustakaan Anak Pevita 21.959 kunjungan, sementara layanan perpustakaan keliling mencatat angka tertinggi dengan 75.001 kunjungan.
Capaian ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Kepala Bidang Pengelolaan Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Gemar Membaca Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta, Nunun Zulaikha, menilai tren tersebut sejalan dengan strategi layanan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan warga.

Salah satu langkah yang dirasakan langsung manfaatnya adalah perpanjangan jam operasional hingga pukul 20.00 WIB pada hari kerja. Ruang belajar malam hari ini menjadi alternatif penting, terutama bagi pelajar dan mahasiswa yang membutuhkan tempat kondusif di luar jam sekolah dan kerja.
Aktivitas yang paling banyak dilakukan adalah mengerjakan tugas dan belajar mandiri, memanfaatkan suasana perpustakaan yang relatif tenang dan nyaman.
Di luar aspek waktu, perpustakaan juga berupaya memperkaya pengalaman literasi. Program Seruni dikembangkan sebagai etalase buku pilihan melalui media sosial, menghadirkan ulasan pustakawan yang membahas isi dan keunggulan buku secara ringan dan menarik.
Pendekatan ini memperluas jangkauan perpustakaan, tidak hanya di ruang fisik, tetapi juga di ruang digital yang akrab dengan generasi muda.
Penguatan identitas budaya turut menjadi perhatian melalui layanan unggulan Gantari. Perpustakaan tidak hanya menyimpan pengetahuan, tetapi juga menghidupkan kembali warisan literasi lokal.
Kelas Aksara Jawa, Arab Pegon, Iluminasi, hingga Macapat dibuka secara rutin, menjadikan perpustakaan sebagai simpul pelestarian budaya yang dapat diakses warga lintas usia.
Perpustakaan Anak Pevita juga berperan signifikan dalam lonjakan kunjungan. Dengan penjenamaan sebagai perpustakaan anak, sekitar 70 persen layanannya difokuskan untuk anak-anak, sementara sisanya melayani kebutuhan umum.
Ruang yang lebih luas dan ramah anak mendorong keluarga menjadikan perpustakaan sebagai tujuan belajar sekaligus rekreasi edukatif.
Pada momen-momen tertentu, seperti Hari Kunjung Perpustakaan dan Festival Literasi, jumlah pengunjung meningkat tajam. Dalam kondisi tertentu, kunjungan harian bisa mencapai sekitar 400 orang, termasuk dari layanan perpustakaan keliling yang menyasar wilayah-wilayah dengan akses bacaan terbatas.
Situasi serupa juga terlihat saat libur sekolah. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta secara rutin menggelar kegiatan liburan di perpustakaan, menghadirkan aktivitas edukatif sebagai alternatif pengisi waktu anak dan keluarga.
Program Wisata Literasi turut membuka ruang pembelajaran kontekstual bagi sekolah-sekolah yang ingin mengenalkan perpustakaan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan kota.
Ke depan, pengembangan layanan masih terus disiapkan. Memasuki 2026, Perpustakaan Anak Pevita akan diperkuat melalui kelas parenting daring yang ditujukan bagi orang tua dan pendamping anak, guna meningkatkan pemahaman pola asuh di era digital.
Di saat yang sama, gerakan berbagi bacaan diperluas lewat program Rotate Your Book, yang memungkinkan warga menukarkan buku layak baca dengan buku hasil donasi.
Upaya-upaya ini menegaskan pergeseran peran perpustakaan di Yogyakarta. Bukan lagi sekadar tempat meminjam buku, tetapi ruang belajar bersama yang inklusif, rekreatif, dan relevan dengan denyut kehidupan warga kota.
sumber: warta.jogjakota.go.id














