Kulon Progo, VoiceJogja.com – Di sudut Kulon Progo, sebuah tradisi lama kembali menemukan maknanya. Ngaruhke—menengok dengan empati dan hadir sepenuh hati—menjadi pelukan sosial bagi AR, seorang anak yang tumbuh lebih cepat dari usianya karena keadaan. Di tengah ujian keluarga, kepedulian hadir sebagai penyangga harapan.
Tradisi ngaruhke bukan sekadar kunjungan, melainkan wujud kehadiran yang merasakan apa yang dirasakan warga. Nilai itu tampak ketika Bupati Kulon Progo R. Agung Setyawan hadir langsung menemui AR, siswi kelas 3 SD Negeri Gembongan, Sentolo, dan ibundanya yang tengah berjuang melawan kanker payudara. Kehadiran ini menandai ikhtiar bersama agar keluarga tersebut tidak berjalan sendirian.

Bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kulon Progo, Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Pendidikan dan Olahraga, Kapanewon Sentolo, Kalurahan Salamrejo, Dukuh Klebakan, Puskesmas Sentolo II, pendamping kalurahan, serta Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan tali asih disalurkan kepada keluarga AR.
Bantuan berupa uang tunai, buah-buahan, dan sembako menjadi simbol solidaritas dan empati di tengah kondisi fisik ibu AR, Rubiyati (36), yang sedang lemah akibat pengobatan kanker payudara.
Nama AR sebelumnya menyentuh hati banyak orang setelah kisahnya beredar luas di media sosial. Anak asal Padukuhan Klebakan, Kalurahan Salamrejo ini harus bersekolah sambil membawa adiknya yang masih berusia tiga tahun.
Keterbatasan kondisi sang ibu dan ketiadaan anggota keluarga lain yang dapat membantu membuat AR mengambil peran besar dalam keseharian.
Sejak awal Januari 2026, AR membantu mengurus rumah, merawat ibunya, dan mengasuh adiknya, bahkan saat mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Di usia yang sangat belia, ia menanggung tanggung jawab yang lazimnya dipikul orang dewasa.
Sekolah pun menunjukkan sikap inklusif dengan tidak keberatan atas kondisi tersebut, memastikan proses belajar AR tetap berjalan.
Kolaborasi lintas sektor yang terbangun diharapkan mampu meringankan beban keluarga AR sekaligus memastikan hak-haknya untuk tumbuh, belajar, dan bermain tetap terpenuhi. Dukungan moral dan pendampingan berkelanjutan terus diupayakan agar masa kanak-kanak AR dapat dilalui dengan lebih layak dan penuh harapan.

Kehadiran pemerintah dan masyarakat menjadi simbol perlindungan bagi anak-anak yang berada dalam situasi rentan.
Rubiyati menyampaikan rasa haru dan terima kasih atas kehadiran Bupati Kulon Progo beserta rombongan yang datang bersilaturahmi. Ia bercerita tentang pengobatan kemoterapi yang dijalaninya lima hari dalam sepekan dan perjalanan menggunakan angkutan umum dari Sentolo menuju RS Harjolukito. Dalam kondisi itu, tak ada pilihan lain selain meminta AR membantu mengasuh adik-adiknya.
“AR mengajak adiknya ke sekolah. Alhamdulillah pihak sekolah tidak keberatan. Terima kasih, Nak. Semoga ibu segera sembuh dan bisa menjalankan fungsi orang tua lagi,” ujarnya.
Kisah AR menjadi pengingat bahwa di tengah keterbatasan, gotong royong dan kepedulian adalah kekuatan utama. Ngaruhke kembali menegaskan bahwa kemanusiaan hidup ketika negara dan masyarakat hadir bersama, menjaga asa anak-anak agar tetap menyala.
sumber: Kominfo Kulon Progo














