Jakarta, Voicejogja.com – Bagi banyak warga Jogja dan pengguna kereta api, perjalanan yang aman sering terasa sebagai hal biasa. Padahal di balik rel yang dilalui setiap hari, ribuan petugas bekerja dalam sistem yang ketat untuk memastikan keselamatan setiap perjalanan berlangsung selamat, tepat waktu, dan minim risiko.
PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus memperkuat kompetensi sumber daya manusia dan sistem operasional demi menjaga keselamatan perjalanan kereta api yang melayani jutaan penumpang di berbagai daerah.
Ribuan SDM Jadi Penjaga Keselamatan
Keselamatan perjalanan kereta api tidak hanya bergantung pada masinis atau teknologi. Sistem operasional dijalankan oleh banyak unsur, mulai dari awak sarana, pengatur perjalanan kereta api, pengendali perjalanan, petugas pemeriksa jalur, tenaga perawatan sarana dan prasarana, hingga penjaga perlintasan.
Vice President Corporate Communication PT KAI, Anne Purba, mengatakan seluruh proses operasional harus berjalan secara presisi dan disiplin tinggi.
“Kereta api merupakan moda transportasi yang memiliki sistem operasional sangat detail. Setiap petugas memegang peran penting dan seluruh proses harus berjalan presisi,” ujar Anne.
Menurutnya, kompetensi, ketelitian, serta kepatuhan terhadap prosedur menjadi fondasi utama keselamatan perjalanan kereta api.
Jumlah Pekerja Tersertifikasi Terus Bertambah
KAI mencatat peningkatan jumlah pekerja tersertifikasi dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022 terdapat lebih dari 14 ribu pekerja tersertifikasi, lalu meningkat menjadi lebih dari 15 ribu pekerja pada 2023.
Jumlah tersebut kembali naik menjadi 16.186 pekerja pada 2024 dan mencapai 19.167 pekerja tersertifikasi pada 2025.
Sementara pada 2026, KAI menargetkan 18.297 pekerja tersertifikasi di berbagai bidang operasional strategis, mulai dari Awak Sarana Perkeretaapian, Pengatur Perjalanan Kereta Api, tenaga pemeriksa jalur, tenaga perawatan sarana, hingga Penjaga Jaga Lintas.
Anne menjelaskan setiap pekerja wajib melalui pendidikan, pelatihan, uji kompetensi, hingga sertifikasi sebelum bertugas di lapangan.
“Dalam operasional kereta api, keputusan yang diambil petugas harus cepat, tepat, dan sesuai prosedur,” jelasnya.
Keselamatan Dibangun dari Banyak Lapis
Selain penguatan SDM, KAI juga melakukan pemeriksaan rutin terhadap jalur rel, wesel, sinyal, jembatan, sistem operasi, hingga kondisi sarana kereta api.
Pemeriksaan dilakukan melalui inspeksi lapangan, pengamatan detail jalur, bordes ride, hingga lok ride oleh petugas yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya.
KAI juga memanfaatkan aplikasi Safety Railway Information (SRI) agar setiap pegawai dapat melaporkan potensi bahaya atau kondisi tidak aman yang berisiko mengganggu perjalanan kereta api.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya keselamatan yang lebih kuat dan responsif.
Tantangan di Luar Sistem Operasional
Di luar faktor teknis, perjalanan kereta api juga menghadapi tantangan eksternal seperti pelanggaran di perlintasan sebidang, pelemparan kereta, pencurian aset perkeretaapian, bangunan liar di sekitar rel, hingga faktor cuaca ekstrem seperti banjir dan longsor.
Karena itu, KAI terus memperkuat koordinasi bersama pemerintah, regulator, aparat kewilayahan, komunitas, dan masyarakat.
“Setiap perjalanan kereta api yang berjalan aman sesungguhnya dijaga oleh banyak insan yang bekerja penuh disiplin selama 24 jam,” kata Anne.
Bagi masyarakat Yogyakarta yang menjadikan kereta api sebagai bagian penting mobilitas harian, penguatan keselamatan seperti ini bukan sekadar urusan operasional. Ia menyangkut rasa aman, kepercayaan publik, dan keberlanjutan transportasi massal di masa depan.(Oi)
Sumber: Infopublik.id














