Scroll untuk baca artikel
DaerahEkonomiFavoritePemerintah

Kerja Sama TPID DIY–Bengkulu Jaga Harga dan Pasar

×

Kerja Sama TPID DIY–Bengkulu Jaga Harga dan Pasar

Sebarkan artikel ini

Dari Kulon Progo, harapan baru bagi petani dan UMKM Jogja

Kerja sama TPID DIY dan Bengkulu dorong pengendalian inflasi serta buka akses pasar bagi petani dan UMKM di Yogyakarta.
Kerja sama TPID DIY dan Bengkulu dorong pengendalian inflasi serta buka akses pasar bagi petani dan UMKM di Yogyakarta. Foto: Dok Kulonprogokab.go.id

Kulon Progo, Voicejogja.com – Di tengah dinamika harga kebutuhan pokok, kepastian pasar menjadi hal yang paling dirasakan warga. Bagi petani dan pelaku UMKM di Kulon Progo, kerja sama antar daerah membuka jalan agar hasil produksi tak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.

Langkah ini menjadi penting saat inflasi tak lagi sekadar angka, melainkan menyentuh langsung daya beli, biaya hidup, dan keberlanjutan usaha kecil di Yogyakarta.

Kolaborasi untuk Stabilitas dan Akses Pasar

Sinergi ini mengemuka dalam pertemuan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bengkulu dengan TPID Daerah Istimewa Yogyakarta di Hotel Melia Purosani.

Kegiatan tersebut dirangkai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara kabupaten/kota di Bengkulu dengan sejumlah daerah di DIY dan sekitarnya, termasuk Kulon Progo, Bantul, Sleman, dan Magelang.

Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menegaskan bahwa pengendalian inflasi bukan hanya soal angka, tetapi memastikan kebutuhan pokok tersedia dengan harga yang wajar.

“Inflasi yang terkendali akan menjaga daya beli masyarakat, memberikan kepastian bagi pelaku usaha, serta memperkuat fondasi pembangunan daerah,” ujarnya.

Menyatukan Surplus dan Kebutuhan

Kerja sama antar daerah menjadi kunci untuk mempertemukan wilayah yang memiliki kelebihan produksi dengan daerah yang membutuhkan pasokan.

Menurut Ni Made, tidak ada daerah yang sepenuhnya mampu memenuhi seluruh kebutuhan pangannya sendiri.

“Melalui kerja sama ini, potensi surplus dan kebutuhan defisit dapat dipertemukan sehingga pasokan terjaga dan masyarakat tetap terlindungi,” tegasnya.

Pendekatan ini memberi ruang bagi distribusi yang lebih seimbang sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.

Dampak Nyata bagi Kulon Progo

Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, melihat kerja sama ini sebagai peluang konkret bagi petani dan pelaku usaha lokal.

Kulon Progo, sebagai daerah penghasil, memiliki beragam komoditas yang dapat dipasarkan ke daerah lain, termasuk Bengkulu.

“Ke depan, bentuk konkretnya bisa berupa pengiriman hasil produksi dari Kulon Progo untuk memenuhi kebutuhan di Bengkulu,” ujarnya.

Peran pemerintah dalam hal ini menjadi fasilitator agar kerja sama dapat berlanjut hingga ke tingkat pelaku usaha.

Sinergi yang Terus Diperluas

Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, menilai inflasi sebagai persoalan yang membutuhkan kerja bersama lintas daerah.

“Persoalan inflasi ini tidak bisa selesai sendiri, tapi harus dikeroyok bersama agar hasilnya lebih baik,” ungkapnya.

Ia juga membuka peluang kolaborasi lanjutan melalui program Semarak Merah Putih yang menggabungkan aspek ekonomi, budaya, dan sosial.

Makna bagi Yogyakarta

Bagi Yogyakarta, penguatan kerja sama TPID menjadi langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara produksi, distribusi, dan konsumsi.

Ketika pasar terbuka lebih luas, petani dan UMKM memiliki kepastian yang lebih kuat, sementara masyarakat tetap mendapatkan akses kebutuhan dengan harga terjangkau.

Di tengah tantangan ekonomi yang terus bergerak, kolaborasi seperti ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan kesejahteraan warga Jogja.

Penutup

Kerja sama antar daerah menunjukkan bahwa kesejahteraan tidak dibangun sendiri, melainkan melalui keterhubungan yang saling menguatkan.

Dari Kulon Progo hingga Bengkulu, langkah ini menjadi pengingat bahwa masa depan ekonomi Jogja tumbuh dari sinergi yang nyata dan berpihak pada masyarakat.(Oi)

Sumber: Kulonprogokab.go.id