Gresik, VoiceJogja.com – Bermain di kandang yang terasa seperti tandang, Persik Kediri harus menyiapkan lebih dari sekadar taktik saat menghadapi PSIM Yogyakarta.
Di pekan ke-21 BRI Super League 2025/26, Persik kembali menggunakan Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, sebagai kandang sementara. Dua laga sebelumnya di tempat yang sama belum menghadirkan hasil ideal: takluk 1-2 dari Madura United FC dan ditahan imbang 1-1 oleh Persebaya Surabaya.
Situasi itu sempat memunculkan anggapan Gresik bukan tempat yang ramah bagi Macan Putih. Namun pelatih Persik, Marcos Reina, memilih melihatnya sebagai ujian karakter.
“Situasi kami memang sulit, jika partai kandang harus bermain di kota lain. Saya minta kepada para pemain agar menganggap besok kita main seperti di Stadion Brawijaya. Dengan begitu secara mental kita sangat siap menghadapi PSIM Yogyakarta,” ujarnya.
Tanpa Riuh Tribun
Pertandingan ini dipastikan berlangsung tanpa kehadiran penonton. Keputusan panitia membuat stadion sunyi dari dukungan langsung, baik dari kelompok suporter maupun masyarakat umum.
Bagi publik sepak bola, atmosfer tanpa penonton selalu menghadirkan nuansa berbeda. Namun Marcos tak menjadikannya alasan.
“Kita akan tetap bermain maksimal untuk meraih tiga poin. Meski Persikmania tak hadir, kami yakin mereka mendukung tim lewat tayangan langsung dari televisi. Jadi suporter tetap tahu bagaimana perjuangan kami untuk memenangkan pertandingan nanti,” ucapnya.
Bagi warga Yogyakarta, laga ini juga menjadi ujian konsistensi bagi Laskar Mataram. Bermain di luar kandang, menghadapi tim yang sedang dalam tren positif usai menundukkan Dewa United Banten FC 2-1, tentu bukan tantangan ringan.
Membaca Kekuatan, Mencari Celah
Marcos Reina mengakui kualitas PSIM. Ia menyebut tim besutan Jean Paul Van Gastel itu memiliki materi pemain dan variasi permainan yang baik.
“Mereka tim bagus dari sisi materi pemain dan cara bermainnya. Tapi bukan berarti mereka tak punya kelemahan. Kami akan manfaatkan kekurangan lawan dengan taktik terbaik,” katanya.
Ia juga menyadari PSIM pasti telah mempelajari karakter permainan Persik. Karena itu, pendekatan strategi disiapkan berbeda.
“Tiap pertandingan punya perbedaan, karena lawan yang kami hadapi juga beda. Untuk menghadapi PSIM Yogyakarta yang memiliki banyak variasi permainan, saya juga harus buat strategi berbeda agar mereka sulit mengalahkan Persik Kediri,” jelasnya.
Sepekan terakhir, strategi disiapkan untuk meredam Ze Valente dan kolega.
“Semua lini PSIM Yogyakarta bagus. Tapi kami juga punya kekuatan di semua sektor. Kami sudah matangkan persiapan dan besok pemain siap menjalankannya. Setelah dua kali menang terus, mental para pemain sangat bagus untuk pertandingan besok,” tuturnya.
Di stadion yang sunyi, tekanan justru terasa lebih jelas. Tanpa gemuruh tribun, fokus dan keberanian menjadi penentu.
Pada akhirnya, laga ini bukan hanya soal angka di klasemen, tetapi soal siapa yang paling siap menjaga kepala tetap dingin ketika tekanan datang.
sumber: Ileague.id














