Scroll untuk baca artikel
DaerahBisnisEkonomiFavorite

Kampung Lele Asap Jati Jadi Harapan Baru Kulon Progo

×

Kampung Lele Asap Jati Jadi Harapan Baru Kulon Progo

Sebarkan artikel ini

Produk olahan warga Galur mulai menembus pasar luar daerah dan diperkuat sebagai identitas kuliner lokal.

Kampung Lele Asap Jati di Kulon Progo resmi diluncurkan. Produk warga Galur kini menembus Bandung dan diproyeksikan jadi ikon kuliner lokal.
Kampung Lele Asap Jati di Kulon Progo resmi diluncurkan. Produk warga Galur kini menembus Bandung dan diproyeksikan jadi ikon kuliner lokal. Foto: Dok Kulonprogokab.go.id

Kulon Progo, Voicejogja.com Asap tipis dari tungku pengolahan lele di Padukuhan Jati kini tak lagi sekadar aroma dapur warga. Dari sudut Kalurahan Banaran, produk lele asap buatan masyarakat Galur justru mulai dikenal hingga Bandung, membuka harapan baru bagi ekonomi lokal Kulon Progo.

Peluncuran Kampung Lele Asap Jati pada Rabu (5/5/2026) menjadi penanda bahwa kuliner tradisional berbasis perikanan desa mulai bergerak naik kelas. Bukan hanya soal makanan, tetapi tentang bagaimana warga menjaga identitas daerah sekaligus memperkuat masa depan ekonomi berbasis potensi lokal.

Dari Dapur Warga ke Pasar Nasional

Peresmian Kampung Lele Asap Jati dilakukan Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto, bersama Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko, di Padukuhan Jati, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kulon Progo, Drajat Purbadi, menjelaskan saat ini terdapat 32 pengolah aktif di wilayah tersebut. Produksi lele asap bahkan mencapai 450 kilogram per hari.

“Menariknya, 80 persen pemasaran kita justru lari ke Bandung. Untuk menjaga eksistensi dan agar identitas produk ini tidak diklaim wilayah lain, kami sedang mendaftarkan Indikasi Geografis ke kementerian agar Lele Asap Jati sah menjadi hak milik intelektual desa ini dan menjadi ikon khas Kulon Progo,” ujar Drajat.

Langkah pendaftaran Indikasi Geografis dinilai penting agar produk lokal tidak hanya kuat di pasar, tetapi juga memiliki perlindungan identitas yang jelas. Di tengah persaingan produk pangan daerah, pengakuan semacam ini menjadi nilai tambah bagi keberlanjutan usaha warga.

Wisata Kuliner dan Ekonomi Desa

Kampung Lele Asap Jati juga diproyeksikan berkembang menjadi pusat kuliner berbasis wisata lokal. Paket wisata nantinya akan terhubung dengan pelepasan tukik di Pantai Trisik hingga kawasan Jembatan Kamada Banaran.

Konsep tersebut membuka peluang baru bagi pelaku UMKM, pengolah pangan, hingga sektor wisata masyarakat sekitar. Kulon Progo tidak hanya menjual destinasi, tetapi juga pengalaman khas yang tumbuh dari kehidupan warga sendiri.

Dalam sambutannya, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto menilai pengolahan produk menjadi langkah penting agar desa memperoleh nilai ekonomi lebih besar.

“Jangan berhenti di produksi saja, kita harus berani naik kelas. Selama ini habis panen langsung jual, nilai tambahnya kecil. Ke depan, hasil laut dan air tawar yang melimpah di Banaran ini harus diolah di sini agar manfaat ekonominya langsung dirasakan masyarakat desa,” jelasnya.

Gotong Royong Mengangkat Potensi Lokal

Titiek juga menyebut pemerintah pusat tengah mendorong penguatan pangan dan pemberdayaan desa melalui bantuan alat pertanian, benih, hingga program bioflok yang telah berjalan sepanjang 2025.

Sementara itu, Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko, menegaskan bahwa Kampung Lele Asap Jati akan diintegrasikan dalam strategi pengembangan wisata daerah.

“Kulon Progo ini ibarat negeri Astina yang kaya, ada gunung, daratan, dan lautan. Dengan semangat gotong royong dan dukungan dari pusat, kita optimis bisa menghapus predikat kabupaten termiskin dan bangkit menjadi daerah yang makmur,” ungkap Ambar.

Peresmian kemudian ditutup dengan dialog antara warga dan Ketua Komisi IV DPR RI terkait kebutuhan sarana perikanan dan pertanian untuk mendukung keberlanjutan ekonomi masyarakat Galur.

Di tengah perubahan pola konsumsi dan persaingan produk pangan modern, langkah warga Padukuhan Jati menunjukkan bahwa kekuatan desa tetap bisa tumbuh dari tradisi, gotong royong, dan keberanian memberi nilai lebih pada hasil lokalnya sendiri.(Oi)

Sumber: Kulonprogokab.go.id