Jogjakarta, Voicejogja.com – Riuh langkah pelari akan menyatu dengan denyut Malioboro saat Jogja 10K 2026 digelar. Ribuan peserta dari berbagai daerah datang bukan hanya untuk berlari, tetapi juga merasakan wajah Yogyakarta yang hangat, hidup, dan penuh cerita.
Sekitar 9.000 pelari dijadwalkan ambil bagian dalam Jogja 10K pada 3 Mei 2026. Ajang ini semakin menguatkan posisi Kota Yogyakarta sebagai destinasi sport tourism yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga sarat pengalaman budaya.
Lari, Budaya, dan Wajah Jogja
Mengusung tema “Every Step Tells A Story”, Jogja 10K tidak sekadar lomba lari. Rute yang melintasi kawasan Malioboro menghadirkan perpaduan antara aktivitas fisik dan lanskap budaya yang khas.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyebut ajang ini sebagai bagian dari transformasi kota menuju ruang hidup yang lebih sehat dan inklusif.
“Ini bukan sekadar ajang olahraga, tetapi juga pengalaman yang menggabungkan aktivitas fisik dengan keindahan serta keaslian budaya di Kota Yogyakarta,” ujarnya saat konferensi pers di Plaza Malioboro Mall.
Lebih dari 80 persen peserta datang dari luar daerah. Angka ini menunjukkan daya tarik Jogja yang mampu memanggil orang datang, tinggal, dan terlibat dalam ritme kota.
Dampak Nyata bagi Pariwisata dan UMKM
Gelombang kedatangan peserta langsung terasa di sektor pariwisata. Tingkat hunian hotel di Kota Yogyakarta melonjak hingga mendekati penuh.
Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono, menyebut aktivitas kota meningkat sejak beberapa hari sebelum acara. Jalanan mulai padat, dan geliat ekonomi terasa hingga ke pelaku UMKM.
“Tidak hanya hotel, pelaku UMKM juga merasakan manfaatnya. Aktivitas kota meningkat,” katanya.
Jogja 10K menghadirkan tiga kategori, yakni 10K kompetitif, fun run 5K, dan heritage fun walk 3 kilometer. Format ini membuka ruang bagi berbagai kalangan untuk terlibat, dari pelari profesional hingga keluarga yang ingin menikmati kota dengan cara berbeda.
Jogja sebagai Magnet Komunitas Nasional
Project Director Jogja 10K 2026, Sentanu Wahyudi, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang temu komunitas dari seluruh Indonesia.
Sebanyak 105 komunitas lari dari Sabang sampai Merauke terlibat. Sepanjang rute, peserta akan disambut atraksi budaya dan keramahan warga, menjadikan pengalaman berlari terasa lebih personal dan berkesan.
“Kami ingin peserta tidak hanya berlari, tetapi juga merasakan pengalaman berwisata di Kota Yogyakarta,” ungkapnya.
Keunggulan budaya, keramahan, dan karakter geografis Jogja menjadi alasan utama dipilihnya kota ini sebagai tuan rumah.
Menjaga Ritme Kota ke Depan
Jogja 10K 2026 tidak berhenti sebagai peristiwa sesaat. Antusiasme peserta dan dampak ekonomi yang luas membuka peluang menjadikannya agenda tahunan yang dinanti.
Lebih dari itu, event ini memperlihatkan bagaimana olahraga dapat menjadi pintu masuk untuk merawat budaya, menggerakkan ekonomi, dan membangun citra kota secara berkelanjutan.
Di setiap langkah pelari, Jogja tidak hanya menjadi latar, tetapi subjek yang hidup, menyambut, menggerakkan, dan terus bertumbuh bersama warganya.(Oi)
Sumber: Warta.jogjakota.go.id














