Scroll untuk baca artikel
Berita UnggulanBudayaDaerahFavoritePeristiwaWisata

Jejak Sunyi Menuju Imogiri: Abdi Dalem Keraton Menjaga Amanah Leluhur Lewat Tradisi Kuthomoro

×

Jejak Sunyi Menuju Imogiri: Abdi Dalem Keraton Menjaga Amanah Leluhur Lewat Tradisi Kuthomoro

Sebarkan artikel ini
Tradisi Kuthomoro kembali digelar jelang Ramadan. Abdi dalem Keraton Yogyakarta berjalan khidmat menuju Makam Imogiri untuk mendoakan leluhur. foto: Dok Bantulkab.go.id

Imogiri, VoiceJogja.com – Langkah-langkah tanpa alas kaki menyusuri jalan menuju Imogiri menjadi penanda laku batin yang terus dirawat Keraton Yogyakarta. Menjelang Ramadan, tradisi Kuthomoro kembali dijalankan sebagai pengingat akan ikatan spiritual antara generasi hari ini dan para leluhur yang telah lebih dahulu menapaki sejarah.

Dalam suasana khidmat, sejumlah abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat melaksanakan Hajad Dalem Kuthomoro, sebuah tradisi nyadran atau ziarah makam yang dilakukan menjelang bulan suci Ramadan.

Prosesi ini ditujukan untuk mengirim doa kepada para leluhur Keraton Yogyakarta yang dimakamkan di Kompleks Makam Raja-raja Imogiri.

Foto: Bantulkab.go.id

Tanpa mengenakan alas kaki, para abdi dalem berjalan dari Kantor Bupati Juru Kunci Puroloyo yang berada di Paseban Kalurahan Imogiri menuju Bangsal Srimanganti. Bangunan ini berdiri di bagian depan Kompleks Makam Sultan Agung, menjadi ruang persinggahan sebelum doa-doa dipanjatkan.

Perjalanan dilanjutkan dengan menaiki ratusan anak tangga menuju kawasan makam. Setibanya di Bangsal Srimanganti, rangkaian doa tahlil digelar, disusul tabur bunga di makam Sultan Agung Hanyakrokusomo serta para leluhur Keraton Yogyakarta.

Suasana hening menyelimuti prosesi, seolah menegaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan laku hormat yang diwariskan lintas generasi.

Penghageng Makam Raja-raja Imogiri, KRT Hastono Ningrat, menegaskan bahwa Kuthomoro merupakan tradisi tahunan yang selalu dilaksanakan pada pertengahan bulan Syaban atau Ruwah dalam penanggalan Jawa. Pelaksanaannya dilakukan secara konsisten dari tahun ke tahun, tanpa perubahan waktu maupun makna.

Rangkaian tradisi ini telah dimulai sejak sehari sebelumnya melalui pengiriman uborampe Kuthomoro. Panewu Imogiri, Slamet Santoso, menjelaskan bahwa perlengkapan tersebut terdiri dari lisah konyoh atau minyak wangi, ratus berupa serbuk kayu cendana, serta yatra tindih yang digunakan untuk membeli bunga. Seluruh uborampe diterima dan diinapkan semalam di Kantor Bupati Puroloyo sebelum dikirab ke kompleks makam.

Aroma harum dari uborampe yang dibawa menjadi simbol penghormatan dan pemuliaan terhadap para leluhur Keraton yang telah wafat. Di balik setiap unsur yang digunakan, tersimpan pesan tentang menjaga martabat, nama baik, dan nilai-nilai luhur yang terus hidup dalam tradisi Keraton Yogyakarta.

Bagi warga Jogja, Kuthomoro bukan hanya penanda datangnya bulan suci, tetapi juga pengingat tentang pentingnya merawat hubungan dengan masa lalu. Melalui langkah sunyi para abdi dalem menuju Imogiri, Keraton menegaskan bahwa keberlanjutan budaya dan amanah leluhur tetap menjadi fondasi dalam perjalanan kota ini ke depan.

sumber: Bantulkab.go.id